Selasa, 08 Desember 2009

Perkembangan dan Kemajuan Islam di Andalusia

A. Proses Berdirinya Kekhalifahan Bani Umayah II di Andalusia
Untuk menjelaskan proses pembentukan dinasti Bani Umayah II di Andalusia, ada rangkaian peristiwa penting yang harus digambarkan di sini, yaitu peristiwa pengambilalihan kekuasaan dari para wali ke tangan para Amir yang disebut dengan periode keamiran hingga terbentuknya sistem khilafah saat itu. Dari situlah mulai dikenal khilafah Bani Umayah II.
Amir pertama yang berhasil menguasai Andalusia adalah Abdurrah-man al-Dakhil, salah seorang cucu Abdul Malik Ibn Marwan yang berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan Abu Abbas al-Saffah. Melalui rute yang tidak biasa dialalui, akhirnya ia berhasil memasuki wilayah Palestina, terus ke Mesir, Afrika Utara hingga tiba di Ceuta (Septah). Di wilayah inilah ia mendapat bantuan dari bangsa Barbar dan menyusun kekuatan militer guna menyelesaikan konflik etnik politik antara bangsa Arab Mudhariyah dengan Himyariyah di Andalusia.
Abdurrahman diminta oleh pihak Arab Himyariyah untuk mem¬ban-tu merencanakan dan melaksanakan pemberontakan terhadap kelompok Mudhariyah. Gubernur Yusuf Ibn Abdurrahman al-Fikry, yang mewakili ke¬lompok Arab Mudhariyah, menindas kelompok Arab Himyariyah. Sebe-lum melancarkan serangan, Abdurrahman mengutus orang keper¬ca¬ya¬an¬nya bernama Badar untuk mencari tahu tentang perkembangan terakhir yang terjadi. Utusan itu diterima dengan baik oleh kabilah-kabilah Arab ka¬re¬na ia merupakan utusan dari keturunan Bani Umayah yang pernah ber¬kuasa di Damaskus. Badar memperoleh informasi mengenai perkembangan politik mutakhir yang terjadi di Andalusia. Berita inilah yang kemudian ia sampaikan kepada Abdurrahman al-Dakhil. Dari data dna informasi yang dikumpulkan, akhirnya Abdurrahman dan para pendukungnya memasuki wilayah Andalusia pada tahun 755 M. dan memenangkan peperangan di Massarat pada tahun itu juga, sehingga ia menduduki tahta kekuasaan Andalusia sebagai bagian dari kekuasaan dinasti Umayah di Andalusia, yang saat itu telah hancur dikalahkan oleh kekuatan Bani Abbas.
Kedatangan Abdurrahman al-Dakhil dan para pendukungnya mem-buat marah Yusuf Ibn Abdurrahman al-Fikry. Karena ia dianggap penen-tang dan mengancam kekuasaanya di Andalusia. Kedatangan mereka ke An¬dalusia ini tidak dianggap remah oleh Yusuf. Dengan berbagai cara, Yusuf mencoba mengusir Abdurrahman al-Dakhil keluar dari Andalusia. Sikap dan perbuatan Yusuf Ibn Abdurrahman al-Fikry ini menimbulkan kemarahan Abdurrahma al-Dakhil dan para pendukungnya. Sehingga kelompok Abdurrahman melakukan serangan atas kekuasaan Yusuf di Cordova pada tahun 139 H/758 M. Kemenangan ini membawa harum nama Abdurrahman al-Dakhil. Sejak saat itulah ia mendirikan kekuasaan Islam di Andalusia, sebagai bagian dari kepanjangan kekuasaan Bani Umayah yang telah dihancurkan Bani Abbas pada tahun 132 H/750 M.
Sejak menjabat sebagai penguasa Islam di Andalusia, Abdurrahman menghadapi berbagai gerakan pemberontakan internal. Gangguan pihak luar terbesar adalah serbuan pasukan Papin, seorang raja Perancis dan puteranya yang bernaa Charlemagne. Namun pasukan penggangu ini dapat dikalahkan oleh kekuatan Abdurrahman al-Dakhil. Hanya saja, sebelum usai tugasnya menghancurkan kekuatan musuh dan memantapkan ke¬kuasannya di Andalusia, ia keburu meninggal pada tahun 172 H/788 M
Meninggalnya Abdurrahman al-Dakhil tidak menyurutkan niat ge¬ne-rasi penerusnya untuk tetap mempertahnkan kekuasaan. Posisi Ab¬dur-rahman al-Dakhil digantikan oleh puteranya, yaitu Hisyam I (172-180 H/ 788-796 M). Dalam catatan sejarah, Hisyam I dikenal sebagai seorang Amir yang lemah lembut dan administratur yang liberal. Semasa ia menjabat, banyak pemberontakan terjadi, di antaranya adalah pembe¬ron¬takan di To-ledo yang dilakukan oleh dua orang saudaranya, yaitu Abdullah dan Sulaiman. Pemberontakan tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Usai mengatasi gerakan pemberontakan tersebut, Hisyam melancarkan serangan ke bagian utara Andalusia. Di sini terdapat kelompok Kristen yang sering-kali mengganggu keamanan dan ketertiban pemerintahannya. Kota Nore-bonne dapat dikuasai, sementara suku-suku yang tinggal di Galicia meng-ajukan perundingan perdamaian.
Di antara sifat kepemimpinan Hisyam adalah bijaksana dan lemah lem¬but. Ia terus melaksanakan pembangunan dan peningkatan kesejah¬te¬ra-an rakyatnya. Hampir setiap malam ia melakukan inspeksi ke pemu¬kim¬an-pemukiman penduduk. Mengunjungi orang yang sedang sakit, dan mem-bantu mereka dengan materi atau uang yang mereka butuhkan. Hal itu dilakukan karena ia ingin mendengar dan melihat sendiri nasib yang se-dang diderita rakyatnya. Meskipun tampak kelihatan lemah lembut, ada sifat tegas tersembunyi di dalamnya, terutama kepada para pemberontak dan perusuh negara. Sifat ini dibawa hinggal ajalnya tiba pada 207 H/796 M
Sepeninggal Hisyam I, posisi kekuasannya digantikan oleh Hakam (180-207 H/796-822 M.). Selama masa kekuasannya, banyak terjadi gerakan pemberontakan, baik yang dilakukan oleh saudaranya, yaitu Abdullah yang mendapat dukungan militer dari Charlemagne dan berhasil menguasai Toledo. Sementara Sulaiman, dapat menguasai Valencia. Pada saat seperti itu, Louis dan Charles berhasil menyusup ke wilayah Islam, sedang Alfonso panglima suku Galicia, menyerang Aragon. Semua serangan tersebut dapat digagalkan oleh Hakam. Setelah itu, ia berusaha mengatasi gerakan pembe¬rontakan yang dilakukan kedua saudaranya, yaitu Abdullah dan Sulaiman.
Dalam situasi kritis itu, datang serangan bertubi dari bangsa Franka yang berhsil merebut Barcelona. Selain itu, Cordova juga tengah meng¬ha¬da-pi gerakan para pemberontak. Namun semua itu dapat diatasi oleh Hakam, sehingga di akhir masa kekuasanya, situasi menjadi aman dan stabil. Dari sini dapat diketahui bahwa selama 26 tahun Hakam berkuasa, selalu di-ganggu oleh gerakan para pemberontak yang tidak suka atas kepe¬mim¬pin-annya. Tapi, semua gerakan pemberontakan itu dapat diatasi dengan ke¬ku-atan dan jiwa kesatria Hakam.
Sepeninggal Hakam 207 H/822 M, kekuasaan jatuh ke tangan Ab-dur¬¬rah¬man II (207-238 M/822-852 M). Selama 30 tahun berkuasa, banyak pem¬bangunan dilakukannya. Ia beramisi membangun Cordova sebagai sa-ingan kota Bagdad, miliki Bani Abbas. Pada masanya juga terjadi per¬kem-bangan ilmu pengetahuan, seni dan sebagainya. Keadaan berbalik seperti semula ketika kekuasaan dipegang oleh Muhamad I (238-273 H/853-886 M).
Pada masa ini, banyak terjadi pemberontakan, baik dilakukan oleh Kristen Eropa maupun oleh pihak muslim sendiri. Gerakan pemberontakan ter¬be¬sar dan terlama dilakukan oleh Umar Ibn Hafsyun. Pemberontakan ini da¬pat diatasi oleh penguasa sesudah Munzir (273-275 H/886-888 M), yaitu Abdullah (275-300 H/888-912 M) di bawah panglima Obaydillah. Kondisi aman mulai terlihat sejak pemberontak Umar Ibn Hafsyun dikalahkan. Ab-dullah merupakan Amir terakhir sebelum berdirinya kakhalifahan Bani Umayah II diproklamirkan oleh Abdurrahman III.
Jadi, proses pembentukan pemerintahan Islam di Andalusia yang meng¬gunakan sistem khilafah, tidak berlangsung mulus. Banyak pembe-ron¬takan terjadi dan kendala yang dihadapi para penguasa saat itu. Kondisi itu baru teratasi dengan baik, sejak akhir masa kekuasaan Abdullah yang masih menggunakan sistem keamiran hingga masa awal pemerintahan khalifah Abdurrahman III.

B. Pendiri Bani Umayah II di Andalusia
Dalam catatan sejarah Islam, Abdurrahman al-Dakhil yang berhasil memasuki Andalusia pada tahun 755 M boleh dibilang peletak dasar dari pembentukan pembentukan dinasti Bani Umayah II di negeri itu, karena dia adalah generasi terakhir dari Bani Umayah yang masih tersisa. Hanya saja sistem pemerintahan yang dipergunakan saat itu berbeda dengan yang terdapat di Damaskus. Sistem yang dipakai Abdurrahman menggunakan gelar Amir, bukan khalifah. Karena gelar ini telah dipakai oleh Bani Abbas yang berkuasa di Bagdad menggantikan kekuasaan Bani Umayah. Hal itu terjadi karena pada saat itu yang Meskipun secara tidak menggunakan sistem pemerintahan dinasti Bani Umayah di Damaskus, yaitu khilafah.
Sejak berkahirnya masa keamiran, sistem yang dipakai dalam peme-rintahan Bani Umayah di Andalusia adalah sistem khilafah dan pengua-sanya disebut khalifah. Penggunaan sistem ini mulai berlaku sejak Abdurrahman III berkuasa ( 300-350 H/912-961 M) hingga Muhamad III (1023-1025 M). Sejak saat itu, terjadi konflik politik berkepanjangan yang menyebabkan terjadinya perpecahan di negeri itu. Hal ini ditandai dengan munculnya raja-raja kecil yang dikenal dengan istilah al-Muluk al-Thawaif, yang berkuasa di masing-masing daerah.
Pendiri dinasti Bani Umayah yang sebenarnya adalah Abdurahman III yang berkuasa selama 50 tahun ( 300-350 H/ 912-961 M). Abdurrahman III dengan tegas menggunakan sistem khilafah dalam pemerintahaannya, bukan keamiran.



C. Para Penguasa Bani Umayah II yang Menonjol

1. Abdurrahman al-Dakhil ( 138-172 H/757-788 M).
Meskipun Abdurrahman al- Dakhil adalah keturunan Bani Umayah
pertama yang menjadi penguasa dan pelangsung kekuasaan Bani Umayah di Andalusia, tapi ia bukan termasuk salah seorang khalifah Bani Umayah.
Karena gelar jabatan yang disandangnya bukan khalifah, melainkan Amir. Oleh karena itu, dalam jajaran kekhalifahan Bani Umayah di Andalusia dia dikenal sebagi perintis dan pembuka jalan bagi terbentuknya dinasti Bani Umayah II di Eropa. Penguasa Bani Umayah sebenarnya yang mengguna-kan gelar khalfah adalah Abdurrahman III yang berkuasa selama lebih kurang 50 tahun. Walau demikian, dalam catatan penting sejarah Islam, khususnya yang berkenaan dengan dinasti Bani Uyamayah II di Andalusia, ia dimasukkan sebagai salah seorang penguasa Bani Umayah yang paling menonjol, karena keberhasilannya membangun dasar-dasar dan pengem-bang¬an kekuasaan Islam di Eropa.
Setelah ia berhasil memasuki wilayah Spanyol dengan menunduk-kan penguasa Islam lokal bernama Yusuf Ibn Abdurrahman al-Fikry tahun 758, Abdurrahman al-Dakhil melakukan berbagai rencana kegiatan untuk membangun kerajaan besar, sebagai penerus dari dinasti Bani Umayah yang pernah berkuasa di Damaskus, Syria. Langkah pertama yang dila-kukan untuk memperkuat posisinya adalah memperbaiki keadaan dalam negeri, baik dari segi politik, keamanan, ketertiban dan pem¬bangunan lainnya. Hampir selama masa kekuasaan, energinya dipergunakan untuk mempertahankan berbagai serangan yang datang, baik dari dalam wilayah kekuasaannya sendiri maupun dari luar. Misalnya, ancaman yang datang dari Abu Ja’far al-Mansur ( 137-159 H/754-775 M), seorang penguasa Bani Abbas kedua, yang bekerjasama dengan Karl Martel, penguasa Perancis, untuk menghancurkan kekuasaan Abdurrahman al-Dakhil. Selain itu, datang pula ancaman dari Peppin, ayah Karl Martel. Sekitar tahun 146 H, al-Mansur mengutus al-Ula beserta pasukannya untuk menyerang kekuasaan Abdurrahman, tetapi usaha tersebut mengalami kegagalan, karena kekuatan al-Ula dapat dipukul muncur oleh kekuatan Abdurrahman al-Dakhil.
Selain ancaman dan serangan tersebut di atas, sekitar tahun 160 H/775 M, datang serangan yang dilakukan oleh Yusuf Ibn Abdurrahman al-Fikry, mantan penguasa Spanyol dan Sulaiman Ibn al-Araby. Mereka bekerjasama dengan Karl Martel untuk menggulingkan Abdurrahman. Akan tetapi usaha mereka lai-lagi mengalami kegagalan. Kemenangan ini membuat posisi Abdurrahman al-Dakhil semakin kuat, sehingga ia dapat melakukan berbagai kegiatan pembangunan, sesuai yang direncana¬kan¬nya. Usaha pertama adalah pembangunan masjid Agung di Cordova, yaitu Masjid al-Hamra. Pembangunan itu dilanjutkan pada masa anaknya, yaitu Hisyam I (172-180 H/788-796 M).
Di samping membangun masjid, Abdurrahman al-Dakhil juga membangun gedung-gedung perguruan beserta lembaga-lembaga ilmiah, seperti Universitas Cordova yang sangat terkenal dan melahirkan banyak ilmuan muslim berkaliber dunia. Selain itu, ia juga membangun irigasi untuk keperluan pertanian, sehingga hampir semua ladang yang dulunya tidak ditanami, pada masa pemerinatahannya tumbuh berbagai tanaman yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Andalusia saat itu.

2. Hisyam Ibn Abdurrahman ( 172-180 H/788-796 M).
Sepeninggal Abdurrahman, pemerintahan dipegang oleh anaknya bernama Hisyam. Ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang saleh dan adil bijaksana. Masa pemerintahannya dipergunakan membangun dan mening-kat¬kan kesejahteraan hidup rakyatnya. Ia mempunyai perhatian besar ter-hadap rakyatnya yang miskin. Sehingga hampir seluruh lapisan ma¬sya¬ra-katnya merasakan hasil-hasil pembangunan yang dikerjakan pada masa pe-merinatahan Hisyam. Di antara usaha pembanguan yang dila¬kukannya ada¬lah sebagai berikut :

a. Bidang Pendidikan.
Di antara jasanya yang paling besar adalah mempergiat perkem-bangan ilmu pengetahuan dan penelitian serta perluasan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan budaya serta bahasa percakapan sehari-hari. Sehingga lambat laun bahasa Arab mengalahkan bahasa Latin dalam berbagaia kegiatan di semenanjung Iberia itu.

b. Bidang Pembangunan Fisik
Pada masa pemerintahannya, Hisyam I berhasil merampungkan pembangunan masjid al-Hamra di Cordova, sehigga menjadi sebuah masjid megah dan mempersona banyak orang. Masjid itu tidak hanya diper¬gu¬na¬kan sebagai tempat ibadah, juga untuk lembaga pendidikan. Selain itu, ia juga memperluas bangunan irigasi untuk pertanian dan pembangunan saluran air ke berbagai kota di Andalusia.

c. Bidang Hukum
Di masa pemerintahan Hisyam I, mulai berkembang mazhab Maliki. Mazhab hukum Islam itu dibawa dan dikembangkan di Andalusia oleh para pengikutnya yang mendapat perlindungan Hisyam I. Dalam masalah penegakkan hukum, Hisyam I ikut memberikan dorongan agar semua hak-hak seseorang diperhatikan dengan baik dan dilindungi. Karena keadilan dan ketertiban yang ada, maka masa pemerintahan Hisyam I yang hanya berlangusng 7 tahun 7 bulan, berjalan dengan baik hingga ia meninggal dunia pada tahun 180 H/796 M.

3. Abdurrahman II ( al-Awsath, 206-238 H/ 822-852 M)
Dalam usia 31 tahun, al-Awsath telah menerima jabatan sebagai se-orang Amir ( penguasa) Islam di Andalusia, menggantikan posisi ayahnya. Berbeda dengan sikap dan kebijakan ayahnya, al-Hakam. Al-Hakam tidak berlaku adil, kurang peduli terhadap kepentingan masyarakat, sehingga ia sangat dibenci. Sementara al-Awsath disukai, karena kebijakannya yang me¬mihak masyarakat dan sikapnya yang tega dan berani, terutama dalam mengatasi brbagai pebetontakan yang ada.
Selama masa pemerintahannya yang berlangsung lebih kurang 31 tahun, banyak usaha yang telah dilakukan. Di antara usaha itu adalah sebagaia berikut:

a. Politik dalam Negeri.
1. Mengatasi Pemberontakan.
Usaha pertama yang dilakukannya dalah memadamkan pem¬be-rontakan yang terjadi di dalam negeri. Setelah terkendalinya ke-adaan, dan situasi politik dalam negeri mulai stabil, ia berusaha keras untuk melakukan pembangunan dalam berbagai bidang. Sehingga negara menjadi makmur.

2. Membangun Masjid dan Memperindah Kota
Dalam masa pemerintahannya, Abdurrahman II berhasil membangun kota dan daerah Lusitania, Murcia, Valencia, Castile dan kota-kota lainnya. Kota –kota tersebut dipeindah dengan bangunan-bangunan umum, seperti masjid-masjid besar, perpustakaan dan lain-lain, termasuk pembangunan pabrik senjata di Cartagena dan Cadiz.

3. Memajukan Ilmu Pengetahuan
Pada masa pemerintahan Abdurrahman al-Awsath, banyak lahir ilmuan muslim dan para filosuf kenamaan. Ia membangkitkan gairah keilmuan para intelektual untuk terus melakukan kajian keilmuan dalam berbagai bidang disiplin ilmu dan peradaban lainnya. Untuk kepentingan itu, ia banyak membangun sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang dilengkapi perpustakaan.

4. Kebebasan Beragama
salah satu kebijakan yang dikeluarkan pada masa pemerin¬tahan-nya adalah kebebasan beragama. Umat Kristen dan umat non mus¬lim lainnya diberikan kebebasan untuk menjalankan ajaran agama yang mereka anut. Antara satu agama dengan pemeluk agama lain tidak dibenarkan memakasakan kehendak dan ajar-annya kepada pemeluk agama lain. Kebijakan dan toleransi beragama ini pada akhirnya berdampak positif, karena banyak penganut agama lain memeluk Islam.

b. Politik Luar Negeri

Sekitar tahun 808 M terjadi serangan besar-besaran Raja Alfonso II da-ri kerajaan Lyon ke wilayah kekuasaan Abdurrahman II, sehingga beberapa wilayah kekuasaan Abdurrahman di Andalusia berhasil dikuasai, misalnya kota pelabuhan Porto. Keberhasilan tentara Alfonso ini membuat semangat juang mereka terus bertambah besar, sehingga usaha penyerangan terus di-lakukan hingga mencapai wilayah Lusiania, dan brhasil merebut Lisabon. Akan tetapi, ambisi pasukan Alfonso terbendung oleh kekuatan pasukan Abdurrahman, sehingga mereka berhasil mengusir kekuatan pasukan asing. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu kebijakan politik Abdurrahman II adalah mencegah masuknya pasukan asing ke wilayah Andalusia. Hal itu dilakukan demi terciptanya keamanan dan perdamaian di wilayah Andalusia yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan Abdurrahman II.
Selain itu, pasukan Abdurrahman II berhasil mengusir pasukan bangsa Normandia yang tengah melancarkan serangan ke Andalusia dan mengusik ketentraman negeri itu.
Oleh karena itu, untuk memperkuat pengaruh dan posisinya di mata para penguasa di luar Andalusia, Abdurrahman mengadakan perjanjian per¬sahabatan dengan kerajaan Byzantium dan Navarra pada tahun 836 M. Perjanjian itu dimaksudkan untuk menciptakan persahabatan dan ker¬ja¬sa-ma antar kedua negara dalama berbagai bidang, terutama politik dan ekonomi. Selain itu, juga bertujuan untuk membendung kekuatan serangan yang setiap saat akan datang dari kerajaan Franka.

4. Abbdurrahman III ( 300-350 H/911-961 M).
Abdurrahman III yang dijuluki al-Nashir (penolong) menggantikan kedudukan ayahnya pada usia 21 tahun. Penobatannya disambut baik oleh semua kalangan. Kemudian pada tahun 301 H/913 M Abdurrahman mengumpulkan pasukan militer yang sangat besar. Sehingga para perusuh dan musuh-musuhnya merasa gentar dengan pasukan yang kuat dan besar itu. Dengan kekuatan yang dimi¬liknya, Abdurrahman melakukan penak-lukkan kota-kota di bagian utara Spanyol tanpa perlawanan. Setelah itu, ia berhasil menaklukkan Sevile dan beberapa kota penting lainnya. Para perusuh dan penentangnya, seperti kaum Kristen Andalusia yang selama itu menjadi penentang utama kekua¬saan Islam, tidak berani melakukan perlawanan terhadap Abdur¬rah¬man III. Hanya masyarakat kota Toledo yang berusaha menentang kekuasaan Ab¬durrahman III ini. Tetapi, usaha mereka semua dapat digagalkan, karena kekuatan pasukan Abdurrahman III tidak ada tandingannya saat itu. Sete¬lah ia berhasil menaklukkan masyarakat Kristen di Toledo ini, Abdur¬rah¬man meneruskan usahanya untuk menundukkan kekuatan Kristen di ba¬gian Utara Andalusia.
Abdurrahman III dikenal sebagai seorang penguasa Islam yang tegas. Ia akan menghancurkan semua gerakan yang akan menenatang kekuasannya. Untuk mewujudkan keinginan itu, ia mengeluarkan beberapa kebijakan untuk perbaikan pemerintahannya. Di antara kebijakan itu adalah sebagai berikut:


Gambar peta wilayah kekuasaan Islam di Andalusia




















a. Politik Dalam Negeri
Setelah dua tahun memangku jabatan sebagai penguasa Islam di Andalusia, Abdurrahman III menghadapi serangan dari Ordano II, kepala suku Lyon yang berusaha merebut beberapa wilayah kekuasaan Islam. Pada saat bersamaan, Abdurrahman juga tengah berselisih dengan al-Mu’iz, khalifah Fathimiah di Mesir. Untuk mengatasi persoalan dalam negeri dan mengusir para perusuh, Abdurrahman III memberikan kepercayaan kepada Ahmad Ibn Abu Abda. Tugas itu dijalankan dengan baik, sehingga pasukan Ordano II terdesak. Melihat kenyataan ini, akhirnya Ordano II berkoalisi dengan pasukan Sancho, kepala suku dari Nevarra. Namun, usaha koalisi mereka dapat dipatahkan oleh Abdurrahman III setelah berhasil mengatasi konflik dengan khalifah Fathimiah. Dalam pertempuran itu, akhirnya Ordano II dan Sancho tewas terbunuh.
Setelah ia berhasil mengatasi gejolak politik dan peperangan di da-lam negeri dan berhasil mengatasi persoalan dengan al-Mu’iz, akhirnya Ab-durrahman III melepaskan gelar Amir dan memproklamirkan gelar baru, yaitu khalifah dengan sebutan al-Nashir li Dinillah. Sejak saat itulah para penguasa Islam di Andalusia menggunakan gelar tersebut. Dengan demi¬ki-an pada masa ini terdapat dua khalifah Sunni di dunia Islam; satu di Bag-dad dan satunya lagi di Andalusia. Sementara di dunia Syi’ah, terdapat satu
Khalifah di Mesir, yaitu khalifah dari dinasti Fathimiah.

b. Politik Luar Negeri
Setelah berhasil membangun kekuatan di dalam negeri, Abdur¬rah-man berusaha melakukan ekspansi ke luar Andalusia. Hal itu di¬lakukan se-bagai perwujudan dari kebijakan politik luar negei yang telah di¬ambilnya. Salah satu ekspansi yang dilakukan adalah serangan ke wila¬yah Afrika Utara, yang sedang diincar oleh dinasti Fathimiah. Kalau wila¬yah Afrika Utara tidak dapat dikuasai, maka akan dengan mudah pasukan lain masuk ke wilayah Andalusia. Pada masa ini, dinasti Fathimiah di Afrika Utara te-ngah berusaha me¬lan¬carkan perluasan wilayah ke Barat, bahkan dengan be¬-kerjasama de¬ngan Umar Ibn Hafsun, dinasti Fathimiah berusaha me¬nak-lukkan kekuatan Umayah di Andalusia. Untuk menahan kekuatan dinasti Fa¬thimiah itu, Ab¬durrahman III mendapat bantuan dari penduduk Afrika Barat, dan ia ber¬hasil menaklukkan sebagian wilayah tersebut. Akan tetapi, ke¬menangan itu hanya bersifat sementara karena tak lama kemudian da-tang serangan yang sangat hebat yang datang dari suku-suku Kristen, se-hingga pasukan Abdurrahman III terdesak ke luar Afrika.
Kemenangan ini membawa kebesaran nama khalifah Abdurrahman hingga ke Konstantinopel, Italia, Perancis dan Jerman. Negara-negara ini berusaha menjalin hubungan kerjasama dengan mengirim duta besar mereka ke Andalusia. Hal ini membuktikan bahwa Abdurrahman III tidak hanya sebagai seorang khalifah yang memiliki kepedulian dalam bidang militer atau hal-hal yang berkaitan dengan persoalan dalam negeri, juga sangat peduli dalam biidang diplomatik. Hubungan diplomatik ini akan sangat membantu kerja khalifah di luar negeri.

c. Memperkuat Pertahanan Militer dan Mendirikan Angkatan Laut
Untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negara, Abdurrah¬man III banyak melakukan kebijakan dalam bidang militer. Salah satu ke¬bi¬jakan yang diambil adalah rekruitmen atau pengangkatan tentara dari ma¬syarakat non-Arab, terutama dari bangsa Franka, Italia dan Slavia. Me¬re¬ka dididik secara militer, sehingga menjadi pasukan yang terlatih dan terampil berperang, selain sangat patuh terhadap khalifah. Salah satu alasannya ka-rena ia tidak suka terhadap para bangsawan dan masyarakat Arab yang se-ringkali melakukan gerakan perlawanan dan menentang kebijakan-ke¬bi¬jak-an yang dibuat khalifah Abdurrahman III.
Kebijakan ini tentu saja menimbulkan amarah dari para bangsawan Arab, sehingga mereka melakukan pemberontakan. Hanya sayang, pem¬be-rontakan mereka dapat dikalahkan oleh pasukan Abdurrahman III ini. Dalam pertempuran al-Khandaq dan pengepungan kota Zamora, militer Arab menderita kekalahan besar, sehingga mereka tidak dapat berkutik lagi.
Perseteruan antara khalifah Umayah di Andalusia dengan khalifah Fathimiah di Afrika saat itu, melahirkan ide besar Abdurrahman III. Untuk menguasai jalur Laut Tengah dn benua Afrika, khalifah memerlukan angkatan laut yang cukup besar. Untuk itulah ia membentuk armada Angkatan Laut yang dilengkapi dengan 300 buah kapal perang. Dengan kekuatan ini, pasukan Umayah berhasil menguasai Ceuta ( Septah) di ujung benua Afrika Utara, sehingga dengan mudah menguasai wilayah-wilayah lain di sekitar Ceuta.

d. Membangun Kota Cordova
Khalifah Abdurrahman III berhasil menjadikan kota Cordova sebagai kota terbesar dan termegah di dunia saat itu. Kebesaran dan kemegahan kota tersebut ditandai dengan adanya istana dan bangunan gedung-gedung mewah, masjid-masjid besar, jembatan yang kokoh dan panjang yang melintasi sungai Wail Kabir dan Madinah al-Zahra, sebagai salah satu kota kecil dan mungil yang terletak di salah satu penjuru Cordova. Pada masa itu, Cordova memiliki 300 masjid besar, 100 istana megah, 1.300 gedung dan 300 buah tempat pemandian umum.
Selain itu, pembangunan irigasi dan pertanian menjadi ciri utama kota tersebut, sehingga hasil-hsil pertanian menjadi salah satu barang ko-mo¬d¬iti yang bisa diperrdagangkan. Di samping itu, terdapat perkemb¬anga¬n lain di kota ini, dan hal yang tak kalah pentingnya adalah pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, sehingga Cordova dikenal sebagai pusat peradaban Islam di Barat.

Gambar Masjid Cordova
















e. Memajukan Ilmu Pengetahuan
Selain berhasil membangun kekuatan militer dan kota-kota, Ab¬dur-rahman III juga berhasil memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban Is-lam. Ia juga memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang berkaitan de-ngan upaya pengembangan ilmu pengetahuan itu. Milsalnya, ia banyak men¬dirikan lembaga pendidikan dan perpustakaan, sehingga pada ma¬sa-nya banyak sarjana yang lahir sebagai intelektual muslim yang memiliki il-mu pengetahuan luas. Sehingga Cordova menjadi pusat perhatian dan kunjungan para sarjana atau pencari ilmu dari berbagai negara di Eropa, Asia Barat dan Afrika.


5. al-Hakam (350-366 H/961-976 M)
al-Hakam II adalah putera Abdurrahman III. Ia menggantikan kedu-dukan ayahnya sebagai khalifah dalam usia 45 tahun. Dalam sejarah pe¬me-rintahan khalifah Bani Umayah di Andalusia, ia dikenal sebagai salah se-orang pemimpin yang cinta damai. Setiap persoalan yang dihadapi, selalu di¬se¬lesaikan lewat jalur perdamaian. Meskipun begitu, dalam hal-hal ter-ten¬tu, ia termasuk pemimpin yang tegas. Misalnya, ketika terjadi pem¬be-ron¬tak¬an yang dilakukan oleh suku Lyon di bawah pimpinan Sancho, al-Hakam memberantas hingga dapat ditaklukkan. Semula Sancho beranggapan bah¬wa al-Hakam tidak akan mungkin menumpas mereka dengan cara-cara ke¬kerasan, karena ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang cinta damai. Na¬mun, anggapan itu sangat keliru dan di luar dugaan Sancho sendiri. Sebab al-Hakam mengambil kebijakan lain, bahwa pemberontakan Sancho ini ti¬dak bisa dibiarkan, karena akan mengganggu stabilitas dan kemanan ne¬gara. Karena itu, al-Hakam mengirim pasukan untuk memberantas gerakan Sancho yang berusaha ingin memisahkan diri dari wilayah kekuasaan al-Hakam.
Selain itu, untuk mengatasi konflik antara Bani Umayah di An-dalusia dengan dinasti Fathimiah di Afrika Utara, ia mengu¬tus Ghalib untuk me¬ne¬kan kekuatan Fathimiah. Gahlib berhasil menaklukkan wilayah Afrika Utara dan beberapa suku Barber, seperti suku Barber di Maghrawa, Mikan¬sa dan Zenate mengakui kepemimpinan al-Hakam.
Hal itu menunjukkan bahwa al-Hakam bukan hanya sebagai seorang khalifah yang bijak, juga cerdik dan terdidik. Sehingga ia bisa menem¬atkan kebijakan sesuai pada tempatnya. Apabila dibutuhkan sikap tegas, maka semua itu sudah dipikirkan dengan masak semua akibat yang akan terjajdi. Karena dengan cara=cara seperti itu, keamanan dan kedamaian dapat diwujudkan. Ketika situasi semakin aman, maka pembangunan akan dapat dilaksanakan dengan baik.
Setelah berhasil mengamankan situasi politik dalam dan luar negeri, al-Hakam melaksanakan pembangunan pendidikan. Ia mengirim sejumlah utusan ke seluruh wilayah Timur untuk membeli buku-buku dan manus-krip-manuskrip, atau menyalinnya jika buku yang dibutuhkan tidak dapat dibeli, sekalipun dengan harga mahal. Semua buku dan manuskrip itu diperintahkan untuk dibawa ke Cordova sebagai bahan ajar bagi semua orang yang ingin menuntut ilmu pengetahuan.
Dalam gerakan ini, padaa masanya ia berhasil mengumpulkan lebih kurang 400.000 buku yang disimpan di perpustakaan negara di Cordova. Sementara katalog perpustakaan ini terdiri dari 44 jilid. Para ilmuan, ulama dan filosuf, dapat dengan bebas menggunakan bahan-bahan tersebut. Untuk meningkatkan kecerdasan rakyatnya, ia mendirikan sejumlah sekolah di ibu kota Cordova. Hasilnya, seluruh rakyat Andalusia dapat menulis dan membaca. Sementara itu, umat Kristen Eropa, kecuali para pendeta, tetap berada dalam kebodohan dan tidak dapat tulis baca.
Sebagai sarana pelengkap dari semua itu, ia telah mendirikan sebuah perguruan tinggi terkenal, yaitu Universitas Cordova, selain mendirikan masjid-masjid dan pembangunan kota Madinat al-Zahra.

6. Hisyam II ( 366-399 H/976-1009 M)

Pewaris tahta kekuasaan al-Hakam adalah Hisyam II. Ketika ia menjabat sebagai khalifah, usianya baru sekitar sepuluh tahun lebih. Karena usianya yang masih belia, maka kekuasaan sementara dipegang oleh ibunya bernama Sulthana Subh dan Muhamad Ibn Abi Amir yang bertindak sebagai perdana menteri. Ternyata, Muhamad Ibn Abi Amir adalah orang yang sangat haus kekuasaan. Sebab, setelah ia berhasil memposisikan diri sebagai perdana menteri, ia kemudian menambah gelarnya dengan sebutan Hajib al-Manshur. Ia merekrut tenaga militer dari kalangan suku Barber menggantikan militer Arab.
Dengan kekuatan militer dari suku Barber ini, ia berhasil me¬nun-dukkan kekuatan Kristen di wilayah Andalusia, dan berhasil memperluas pengaruh Bani Umayah di Barat Laut Afrika. Akhirnya, ia berhasil me¬me-gang seluruh cabang kekuasaan negara. Sementara sang khalifah tidak lebih hanya sebagai boneka permainannya. Selain itu, surat-surat resmi dan mak-lumat negara diterbitkan atas nama hajib al-Manshur. Untuk memperkuat po¬sisinya, tak jarang ia melakukan tindakan keji, seperti menyingkirkan ca-lon-calon khalifah atau para pangeran Islam yang akan menduduki jabatan khalifah Bani Umayah di Andalusia.
Al-Manshur adalah seorang perdana menteri yang juga gemar ilmu pengetahuan. Ia berusaha mengumpulkan karya-karya dari berbagai pen-juru untuk kemudian dibawa ke Andalusia. Ia sangat menghormati para ulama dan kaum intelektual, sehingga banyak di antara mereka yang ber-hasil mengembangkan ilmu pengetahuan yang sangat dibutuhkan umat ma¬nusia saat itu. Hasil kerja keras dan kreatifitas mereka benar-benar di-hargai sebagai sebuah karya besar. Tidak hanya itu, bahkan kebutuhan me-reka terpenuhi, sehingga mereka tidak melakukan pekerjaan lain untuk ke-butuhan keluarga.
Di antara usaha yang dilakukan dalam pembangunan adalah mendirikan kota al-Zahirah, dan memindahkan kantor-kantor pemerintahan ke kota tersebut. Di kota inilah ia mencoba memproklamirkan dirinya sebagai seorang khalifah dengan gelar al-Malik al-Manshur. Ternyata usaha yang dilakukan berupa pendirian kota dan pemindahan semua kantor negara dan kas negara ke kota tersebut, merupakan salah satu rencana besarnya untuk merebut kekuasaan dan menjadi penguasa tunggal di Andalusia. Bahkan namanya tercantum di dalam mata uang negara saat itu.
Hanya saja dalam masa-masa akhir pemerintahannya, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Muhamad. Pemberontak ini berhasil meruntuhkan kekuasaan Hisyam dan menurutnkannya dari jabatan khalifah. Kemudian Muhamad menggantikan kedudukan Hisyam dengan memakai gelar al-Mahdi. Setelah menduduki jabatan tersebut, ia berusaha menyerang Sanchol dan pasukannya, sehingga al-Mahdi brhasil menang-kap dan memenjarakan Sanchol. Tidak lama setelah itu, al-Mahdi pun me-ninggal dan posisinya digantikan oleh Sulaiman. Namun, kepe¬mimpinan Sulaiman tidak sehebat al-Manshur dan generasi sebelumnya yang behasil membangun peradaban dan menciptakan kedaiaman dan ketentraman war-ganya.
Dalam catatan sejarah Islam di Andalusia, hajib al-Manshur dikenal sebagai seorang perdana menteri yang berhasil membangun negara dan memakmurkan rakyatnya. Sehingga Islam dan masyarakatnya menjadi sebuah negara dan masyarakat yang kaya dan diperhitungkan di daratan Eropa ketika itu.


D. Kemajuan Peradaban Islam di Andalusia
Umat Islam Andalusia ( 711-1498 M) telah membuka lembaran baru bagi sejarah perkembangan intelektual Islam, bahkan sejarah intelektual dunia. Para penguasa dan kaum intelektual tidak hanya menyalakan suluh kebudayaan dan peradaban maju, juga sebagai media penghubung ilmu pengetahuan dnan filsafat yang telah berkembang pada masa-masa sebelumnya, terutama pada jaman Yunani dan Romawi.
Andalusia pada masa pemerintahan Arab Muslim menjadi pusat peradaban tinggi. Para ilmuan dan pelajar dari berbagai penjuru dunia berdatangan ke negri ini untuk menuntut ilmu pengetahuan. Kota-kota di Andalusia, seprti Granada, Cordova, Seville dan Toledo merupakan pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan tempat tinggal kaum intelektual. Selain itu, kota-kota tersebut juga menjadi tempat atau markas tentara terkenal. Mereka orang-orang terpilih, terdidik dan pandai, sehingga menjadi panutan masyarakat dan model dalam berbagai bidang keahlian.
Berikut beberapa cabang ilmu pengetahuan yang berkemang di Andalusia.

1. Kedokteran
Ahli kedokteran yang terkenal pada saat itu antara lain adalah Abu al-Qasim al-Zahrawi. Di Eropa ia dikenal dengan nama Abulcassis. Beliau adalah seorang ahli bedah terkenal dan menjadi dokter istana. Ia wafat pada tahun 1013 M. Di antara karyanya yang terkenal adalah al-tasrif terdiri dari 30 jilid. Selain al-Qasim, terdapat seorang filosuf besar bernama Ibn Rusyd yang juga ahli dalam bidang kedokteran. Di antara karya besarnya adalah Kulliyat al-Thib.

2. Ilmu Tafsir
Kemajuan dalam bidang ilmu tafsir ditandai dengan munculya ula¬ma ahli tafsir. Mereka antara lain adalah al-Baqi, Ibn Makhlad,al-Zamakhsyari dengan karyanya al-Kasysyaf, dan al-Thabary. Selain mereka, terdapat juga ahli tafsr terkenal saat itu, yaitu Ibn ‘Athiyah. Kebanyakan tafsir yang dibuat mengandung cerita israiliyat. Kumpulan tulisannya itu kemudian dibu¬kukan oleh al-Qurthubi.

3. Ilmu Fiqh
Perkembangan dan kemajuan ilmu Fiqh ditandai dengan mun¬cul-nya banyak ulama fiqh (fuqaha). Mereka antara lain adalah Abdul Malik Ibn Ha¬bib al-Sulami, Yahya Ibn Laits, dan Isa Ibn Dinar. Mereka adalah ahli fiqh mazhab Maliki. Di antara mereka yang paling berperan dalam pengem-bangan mazhab ini adalah Abdul Malik Ibn Habib dan Ibn Rusyd dengan karyanya Bidayah al-Mujtahid. Ibn Ruysd menggunakan metode perban-dingan terhadap pemikiran-pemikiran fiqh yang berkem¬bang saat itu.

4. Ilmu Ushul al-Fiqh
Selain perkembangan dalam bidang ilmu fiqh, terdapat pula perkembangan ilmu ushul al-fiqh (filsafat hukum Islam). Ibn Hazm dan al-Syatibi adalah dua tokoh terkenal sangat produktif dalam bidang ini. Di antara karyanya adalah al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, karya Ibn Hazm, dan al-Muwafaqat karya al-Syatibi.

5. Ilmu Hadits
Meskipun tidak sepesat perkembangan ilmu lain, ilmu hadits juga menjadi perhatian para ulama di Andalusia. Kebanyakan mereka belajar dari Timur, seperti di Bagdad. Di antara ahli ilmu hadits adalah Abdul Walid al-Baji yang menulis buku al-Muntaqal.

6.Sejarah dan Geografi
Dalam bidang literatur terdapat dua orang penulis terkenal, yaitu Ibn Abdi Rabbi’ dan Ali Ibn Hazm. Keduanya adalah penulis dan pemikir muslim kenamaan pada abad ke-11 M. Mereka telah menulis lebih dari 400 judul dalam bidang sejarah, telogi, hadits, logika, syair, dan cabang-cabang ilmu lainnya. Pada masa ini juga muncul banyak ilmuan yang menekuni bidang sejarah dan geografi. Meraka antara lain adalah Ibn Khaldun, Ibn al-Khatib, al-Bakry,Abu Marwan Hayyan Ibn Khallaf, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn Hayyan. Salah satu karya monumental Ibn haldun adalah al-Mukaddimah.

7. Astronomi
Pengkajian ilmu astronomi berkembang dengan pesatnya pada masa ini. Para ahli ilmu perbintangan muslim saat itu berkeyakinan bahwa radiasi bintang-bintang besar pengaruhnya terhadap kehidupan dan kerusakan di muka bumi. Al-majiriyah dari Cordova, al-Zarqali dari Toledo dan Ibn Aflah dari Seville, merupakan para pakar ilmu perbintangan yang sangat terkenal saat itu.

8. Ilmu Fisika
Kemajuan dalam bidang fisika ditandai dengan munculnya sejumlah fisikawan muslim terkenal. Di antara mereka adalah al-Zahrawi dan al-Zuhry. Selaian terkenal sebagai fisikawan, mereka juga terkenal sebagai dokter. Al-Zahrawi hidup pada masa al-Hakam II, sedang al-Zuhry pada masa Abu Yusuf Ya’kub al-Mansur, Ubaidillah al-Muzaffar al-Bahily, selain sebagai fisikawan, juga dikenal sebagai pujangga.

9. Filsafat
Dalam catatan sejarah, Islam di Andalusia telah memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan intelektual muslim. Agama ini menjadi jembatan penghubung antara peradaban dan ilmu pengetahuan Yunani – Arab ke Eropa pada abad ke-12 M. Minat untuk mengkaji bidang filsafat dan ilmu pengetahuan sudah dilakukan pada masa pemerintahan Bani Umayah, yakni sejak abad ke-9 M pada masa pemerintahan Muhamad Ibn Abdurrahman ( 832-886 M). Gerakan ilmu pengetahuan mulai tampak gencar dilakukan pada masa pemerintahan al-Hakam ( 961-976 M), ketika ia memerintahkan kaum ilmuan dan orang-orang kepercayaannya untuk mencari data dan naskah-naskah dari Timur dibawa ke Barat untuk dikembangkan lebih lanjut. Sehingga pepustakaan-perpustakaan dan universitas-universitas di Cordova penuh dengan karya-karya intelektual muslim.
Kemajuan intelekual muslim Andalusia yang paling gemilang dalam bidang filsafat ditandai dengan munculnya banyak filsosuf kenamaan, mereka antara lain adalah Abu Bakar Muhamad Ibn Yahya Ibn Bajjah, lahir di Saragosa, lalu pinndah ke Seville dan Granada. eville . Ia merupakan seorang filosuf terbesar yang pernah hidup pada abad ke-12 M. Selain sebagai filosuf, dikenal pula sebagai seorang saintis, fisikawan, musisi, astronom, dan komentator Aristoteles. Karyanya terbesar antara lain adalah Tadbir al-Mutawahhid.
Selain Ibn Bajjah, filosuf terkenal kedua adalah Abu Bakar Ibn Thufail, lahir di Granada. Ia banyak menulis ilmu kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang cukup terkenal adalah Hay Ibn Yaqdzan ( Si Hidup bin Si Bangkit). Kemudian pada akhir abad ke-12, lahirlah seorang filosuf terkenal bernama Ibn Rusyd, lahir di Cordova pada tahun 1126 M. Ia memiliki keahlian tersendiri dalam mengomentari karya-karya filsafat Aristoteles. Pemikiran yang dikembangkannya sangat raional. Karena be¬gi-tu besarnya pengaruh pemikiran Ibn Ruysd di kalangan kaum intelektual Ba¬rat, maka pemikiran yang dikembangkannya dikenal dengan istilah Avveroisme. Ideologi pemikiran inilah yang membuka cakrawala pemikiran filsafat bangsa Barat. Sehingga bangsa Barat mengalami perkembangan yang sangat maju pada masa-masa sesudahnya.

Gambar tokoh/ulama Islam di Andalusia



















E. Kemunduran dan Kehancuran Daulah Bani Umayah II di An¬da¬lu¬sia

Sebenarnya Islam di Andalusia bertahan cukup lama, mulai dari tahun 711 M hingga tahun 1492 M. Ini berarti agama Islam berada di Eropa sekitar 781 M. Waktu yang begitu lama, telah banyak dimanfaatkan oleh para penguasa dan masyarakat muslim untuk mengembangkan peradaban dunia. Sejarah telah memberikan catatan penting mengenai peran yang telah dimainkan kaum intelektual muslim ketika itu. Mereka telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kemajauan peradaban dunia kini.
Akan tetapi, sejarah panjang yang telah diukir masyarakat muslim dan para penguasa Dinasti Bani Umayah II di Andalusia akhirnya menga-lami kemunduran dan kehancuran. Kemunduran dan kehancuran itu di¬se-babkan oleh beberapa faktor. Berikut uraian singkat mengenai hal tersebut.

1. Konflik Islam dengan Kristen
Para penguasa muslim di Spanyol setelah al-Hakam II tidak ada yang secakap para khalifah sebelumnya. Kegigihan para pendahulu mereka dalam menye¬barkan Islam dan mempertahankan wilayah kekuasaan, tidak dijadikan panutan. Hal ini berakibat pada melemahnya pertahanan yang ada. Kelemahan itu semakin menjadi ketika umat Kristen menemukan identitas dan perasaan kebangsaan mereka. Sehingga mereka mampu menggalang kekuatan guna mengalahkan para penguasa muslim.
Keadaan ini sebenarnya berawal dari kurang maksimalnya para penguasa muslim di Andalusia dalam melakukan proses islamisasi. Bagi para penguasa, hal yang paling penting adalah pernyataan dan sikap umat dan raja-raja Kristen yang mau tunduk di bawah kekuasaan penguasa Islam dengan cara membayar upeti. Dengan cara itu, mereka dibiarkan menganut agama dan menjalankan hukum, adat dan tradisi Kristen, termasuk posisi hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan senjata.
Akan tetapi, kehadiran bangsa Arab muslim di Andalusia tetap saja dianggap oleh para penguasa dan masyarakat Kristen Andalusia sebagai penjajah. Kenyataan ini mereka rasakan sendiri ketika bangsa Arab tidak banyak memberikan peluang kepada mereka dalam jabatan-jabatan struktural penting di pemerintahan. Realitas politik inilah yang kemudian membangkitkan perasaan dan semangat nasionalisme masyarakat Kristen Andalusia. Kelompok raja-raja dan masyarakat Kristen terus mengalang dan menyusun kekuatan guna mengusir para penguasa Arab muslim dari Andalusia. Hal ini menjadi salah satu sebab kehidupan negara Islam di Andalusia tidak pernah berhenti dari konflik antara Islam dengan Kristen. Karena pertentangan ini terus berlanjut, sehingga tidak banyak yang dapat dilakukan oleh para penguasa muslim untuk mengembangkan bidang-bidang keilmuan yang dapat dijajdikan sebagai bahan untuk memperkuat dan mempertahankan kekuasaan. Akhirnya umat Islam Andalusia menga-lami kemunduran. Sementara sekitar abad ke-11 M, masyarakat Kristen mengalami kemajuan pesat dalam bidang IPTEK dan strategi perang.

2. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Berbeda dengan di tempat-tempat lain pada daerah yang pernah menjadi taklukkan penguasa Islam, di mana masyarakat setempat yang baru masuk Islam dipelakukan sama. Di Andalusia tidak seperti itu. Para muallaf yang berasal dari penduduk setempat tidak pernah diterima secara utuh oleh para penguasa Arab muslim. Kenyataan ini paling tidak masih diberlakukan hingga abad ke-10 M. Hal itu ditandai dengan masih dipertahankannya istilah ibad dan muwalladun, suatu ungkapan yang dinilai merendahkan.
Akibatnya, kelompok-kelompok etnis non-Arab yang ada, terutama etnis Slavia dan Barber, seringkali meggerogoti dan merusak perdamaian. Hal ini tentu saja menimbulkan dampak yang kurang menguntungkan bagi perkembangan sosio-politik dan sosio-ekonomi Daulah Bani Umayah II di Andalusia. Realitas ini menunjukkan bahwa tidak ada ideologi pemersatu yang dapat mengikat perasaan kebangsaan mereka. Bahkan banyak di antara mereka yang berusaha menghidupkan kembali fanatisme kesukuan guna mengalahkan kekuatan Bani Umayah.

3. Kesulitan Ekonomi
Dalam catatan sejarah, pada paruh kedua masa Islam di Andalusia, para penguasa begitu aktif mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, sehingga mengabaikan pengembangan sektor ekonomi. Akibatnya, timbul kesulitan ekonomi yang memberatkan negara dan tentu saja berpengaruh bagi perkembangan politik dan militer. Kenyataan ini diperparah dengan datangnya musim paceklik yang dialami para petani. Para petani ini umumnya adalah masyarakat mantan budak yang telah di-merdekakan, sehingga mereka tidak mampu membayar pajak. Tersen-datnya pembayaran pajak ini mengganggu perekonomian negara.
Selain itu, penggunaan keuangan negara yang tidak terkendali oleh para penguasa muslim, juga merupakan salah satu faktor penyebab me¬le-mahnya perekonomian negara. Krisis ekonomi ini berdampak sangat serius teryhadap kondisi sosial politik, ekonomi, militer dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar