Selasa, 08 Desember 2009

Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

Di wilayah Nusantara, pernah berdiri kerajaan-kerajaan Islam. Kera¬ja¬an-kerajaan Islam ini telah memainkan peran pentingnya di dalam proses pe¬nye¬baran Islam dan pembentukan komunitas muslim. Hampir seluruh kepulauan di Nusantara waktu itu terdapat kerajaan-kerajaan Islam, mulai dari pulau Su¬matera, Jawa, Sulawesi, kepulauan Mauluk, Kalimantan, dan lain-lain. Un¬tuk mengetahui lebih jauh mengenai kerajaan-kerajaan Islam yang pernah ada di Indonesia, berikut uraianya.

A. Kerajaan Islam di Sumatra.
Di wilayah Sumatera, pernah berdiri beberapa kerajaan penting yang te¬lah memainkan peran pentingnya di dalam proses penyebaran dan pengem¬bangan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kerajaan Islam Samudera Pasai
Kerajaan Islam Samudra Pasai terletak di Pantai Timur Sumatra, tepat¬nya di antara sungai Jambu Air dengan sungai Pasai di Aceh Utara. Ibu kota kera¬ja¬an Islam ini terletak di Pasai. Pada mulanya, kerajaan Samudra Pasai ter¬diri dari atas dua daerah yang berdiri sendiri, yakni Samudra dan Pasai. Kedua daerah itu telah dikenal oleh para pedagang jauh sebelum kedatangan agama Islam. Para pedagang tersebut telah menjadikan daerah ini sebagai tempat per¬singgahan dan tempat bermukim saudagar-saudagar Arab, Pasai dan India. Akan tetapi, setelah Islam menguasai daerah tersebut, kedua daerah otonom berada dalam satu wilayah kekuasaan Islam, sehingga namanya menjadi kera¬jaan Islam Sa¬mudera Pasai.
Berdirinya kerajaan Islam Samudra Pasai pada tahun 1285 M men¬da¬pat dukungan politis dari kerajaan Mamluk di Mesir. Hal itu ditandai dengan da¬tangnya utusan kerajaan Mamluk pada saat penobatan Merah Silu menjadi raja Islam yang pertama di Samudra Pasai. Sultan Mamluk dari Mesir me¬me¬rin¬tah¬kan kepada Syeikh Ismail datang ke Samudra Pasai mewakili Sultan Mamluk dari Mesir. Dengan penobatan itu, berarti Merah Silu resmi menjadi raja Islam pertama di Samudra Pasai, dengan gelar Malikus Saleh. Ia menganut Madzhab Syafi’i sesuai dengan Sultan Mamluk di Mesir . Malikus Saleh memerintah dari tahun 1285–1297 M.
Dalam menjalankan pemerintahannya Malikus Saleh dibantu oleh Seri Kaya dan Bawa Kaya. Kedua orang itu diberi gelar Sidi Ali Khiatuddin dan Si¬di Ali Hasanuddin. Diceritakan pula bahwa pada masa pemerintahan Malikus Saleh, datang seorang alim dari Mesir bernama Faqir Muhamad, yang pernah lama bermukim di Malabar, India. Kedatang¬an¬nya ke Samudera Pasai me¬ngemban misi dakwah Islam.
Di Samudra Pasai Faqir Muhammad aktif melakukan penyebaran ajaran Islam. Kegiatannya ini mendapat perlindungan kuat dari Sultan Malikus Saleh, sehingga usaha dakwahnya berhasil dengan baik. Di antara kegiatan dakwah yang dilakukannya adalah mengadakan pengajian di istana yang dihadiri oleh para pembesar istana dan rakyat biasa. Dengan pendekatan pendidikan seperti ini, para pembesar dan pejabat Istana serta masyarakat dapat memahami ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Keadaan ini terus berlangsung meskipun sultan Malikus Saleh meninggal dunia pada tahun 686 H/1297 M.
Setelah Sultan Malikus Saleh meninggal dunia, posisinya digantikan oleh anaknya, yaitu Sultan Muhammad (1297-1326 M). Ia bergelar Sultan Malik al- Dzahir I. Tidak banyak catatan penting yang menjelaskan peran penting yang telah dimainkan sultan Malik al-Dzahir hingga ia meninggal dunia pada tahun 1326 M. Kemudian posisinya digantikan oleh puteranya bernama Sultan Akhmad Bahian Syah (1326–1348 M), yang bergelar Sultan Malikuz Zhahir II.
Sultan Ahmad Bahiam Syah terkenal sebagai seorang Sultan yang rajin berda’wah di tengah-tengah masyarakat. Dengan ketekunannya, banyak ma¬sya¬rakat yang memeluk Islam. Dengan demikian agama Islam makin ber¬kem¬bang pada masa itu. Data mengenai perkembangan dan kemajuan yang telah dicapai pe¬me¬rintahan Sultan Ahmad Bahiam Syah dicatat dengan baik oleh pengem¬bara muslim kenamaan Maroko, yaitu Ibnu Batutah, ketika ia berkunjung ke tempat itu pada tahun 1345 M. Menurut Ibnu Batutah, Sultan Samudra Pasai adalah seorang cakap, gagah dan pemeluk Islam yang taat. Dia adalah orang yang menjunjung tinggi agama dengan sunguh-sungguh. Ia ber¬hasil mengis¬lamkan penduduk di daerah-daerah sekitarnya.
Setelah Sultan Ahamd Baiham Syah meninggal dunia, posisinya digan¬ti¬kan oleh puteranya yang bernama Zainal Abidin, yang memerintah dari tahun 1348–1406 M. Pada waktu memangku jabatan pemerintahan, Zainal Abidin ma¬sih kecil, dan pemerintahan dipegang oleh pembesar kerajaan. Kea¬da¬an demi¬kian mengakibatkan Samudra Pasai menjadi lemah. Keadaan itu diperparah ketika Samudera Pasai diserang oleh kerajaan Siam dengan kekuatan 4000 orang tentara. Dalam serangan ini, sultan Sultan Zainal Abidin ditawan. Sultan baru bebas setelah ditebus dengan dua ekor itik dari emas dan sebuah pisau emas diserahkan kepada raja Siam.
Setelah itu, kerajaan Samudera Pasai diserang oleh kerajaan Majapahit pada tahun 1377 M. Serangan itu dilancarkahnn karena Hayam Wuruk dari Majapahit khawatir atas kemajuan Samudra Pasai, terutama kemajuan di bi¬dang perniagaan dan penyebaran agama Islam. Sebab hal itu akan mem¬ba¬ha¬yakan posisi Majapahit dalam perdagangan dan kekuatan politik di Nusantara.
Serangan yang dilancarkan Majapahit tidak dapat ditahan oleh Samudra Pasai, meskipun telah mendapat bantuan dari kerajaan Siam. Dengan demikian, kerajaan Samudra Pasai menjadi taklukan Kerajaan Majapahit. Meskipun kerajaan Samudera Pasai jatuh ke tangan kekuasaan Majapahit, gerakan dak¬wah Islam tidak terhambat, bahkan berjalan dengan baik. Hal itu disebabkan karena letak pusat kekuasaan dengan daerah yang dikuasai sangat jauh, se¬hingga sulit melakukan kontrol atas wilayah kekuasannya di luar Jawa.
Untuk memperkuat peran dan posisi kerajaan, terutama di jalur per¬da¬gangan strategis di Selat Malaka, kerajaan Samudra Pasai menjalin hubungan politik dengan Malaka melalui perkawinan antara raja Parameswara dengan puteri Zainal Abidin. Hubungan ini berdmpak positif terhadap penyebaran Islam di wilayah Malaka. Selain itu, kedatangan para ulama ke Malaka, juga mempercepat proses Islamisasi.
Dalam situasi yang kurang menguntungkan, terjadi peperangan antara Samudera Pasai dengan tentara Nuku pada tahun 1406 M. Dalam pertempuran ini Sultaan Zainal Abidin tewas. Setelah itu, pemerintahan dipegang oleh Hai¬dar Baiham Syah tahun 1406-1417 M. Setelah Haidar meninggal, posisinya di¬gantikan oleh Nagor tahun 1417–1419 M. Setelah Nagor meninggal, posisinya digantikan oleh Ahmad Permala (Raja Bahoy) dari tahun 1419–1420 M.
Dari tahun 1420–1434 M Samudra Pasai diperintah oleh Iskandar. Pada waktu itu terjadi hubungan dengan Tiongkok. Dari Tiongkok datang seorang utusan yang bernama Laksamana Haji Muhamad Cheng Ho. Dengan adanya hu¬bungan itu, pemerintah Tiongkok memberi jaminan perlindungan dan bantuan kepada Samudra Pasai apabila ada serangan dari manapun datangnya. Untuk memperkuat hubungan diplomatik tersebut, sultan Iskandar Muda melakukan kunjungan balasan ke Tiongkok. Hanya saja ia tidak sempat melihat kera¬jaan¬nya, karena keburu meinggal di sana.
Se¬jak saat itu kerajaan Samudra Pasai tidak mempunyai kekuatan lagi, baik da¬lam bidang politik maupun perdagangan. Keadaan ini terus terjadi se¬hingga akhirnya Samudra Pasai mengalami keruntuhan. Meskipun begitu, kerajaan Islam Samudra Pasai tetap dikenal, karena kerajaan ini telah banyak berjasa dalam pengembangan agama Islam di Nusantara. Untuk mengetahui siapa saja yang pernah berkuasa di kerajaan Islam Samudera Pasai, berikut nama-nama mereka.
a. Sulatan Al- Malikus Saleh (1285 – m1297)
b. Sulatan Muhammad ( Al-Malikuz Zhahir I ) 1297 – 1326 M.
c. Sultan Ahmad Bahiam Syah ( Al-Malikuz Zhahir II ) 1326 – 1348 M.
d. Sultan Zainal Abidin 1348 – 1406 M
e. Sultan Haidar Baiham Syah 1406 – 1417 M
f. Sultan Nagor 1417 – 1420 M
g. Sultan Ahmad Permala 1419 – 1420 M
h. Sultan Iskandar 1420 – 1434 M.
Setelah Sultan Iskandar wafat, pusat perdagangan pindah ke Malaka. Ke¬adaan ini mempercepat keruntuhan kerajaan Islam Samudera Pasai, se¬hing¬ga setelah itu, tidak banyak data dan informasi yang diperoleh mengenai kelan¬jutan kerajaan ini.

2. Kerajaan Islam Aceh
Kerajaan Islam Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada ta¬hun 1513 M. Selama memerintah (1514–1530 M), sultan Ali Mughayat Syah ber¬usaha mempertahankan wilayah kekuasaannya, terutama dari serangan bangsa Portugis. Untuk memperkuat posisinya di dunia Islam, sultan Ali Mu¬ghayat Syah menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab. Kerajaan Islam Aceh baru benar-benar melaksanakan pembangunan ketika suasana menjadi aman pada masa pemerintahan sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah (1537– 1568) M. Di antara prioritas pembangunan yang dilakasnakan pada masa sul¬tan yang ke-3 adalah bidang ekonomi, angkatan bersenjata dan agama, selain bidang-bidang lainnya.
Sebagai Negara Islam, Aceh segera menjlain hubungan persahabatan de¬ngan negeri-negeri Islam di India, Arab, Turki dan di kepulauan In¬donesia sen¬diri. Tujuannya adalah untuk memperkuat hubungan dan men jaga persatuan persatuan sesame umat Islam. Hubungan itu tidak hanya dalam bidang politik, juga dalam bidang ekonomi dan perdagangan.
Selain itu, untuk membangun Angkatan Bersenjata, para ahli per¬sen¬ja¬ta¬an dan perkapalan didatangkan dari India (Gujarat, Malabar), Arab dan Turki. Ja¬tuhnya pilihan pada bangsa-bangsa tersebut, selain karena hubungan ke¬a¬ga¬maan, juga karena kemampuan mereka dalam berperang yang tidak ada bandingannya ketika itu. Para pemuda Aceh dididik dan dilatih oleh tenaga ahli luar negeri dalam membuat kapal, senjata dan taktik dan strategi ber¬pe¬rang. Setelah kuat, Aceh mulai melakukan ekspansinya ke wilayah sekitar pantai Timur Sumatera, Pantai Barat Semenanjung Malaya, pantai Sumatera Barat, dan pedalaman Sumatera Utara (Batak), meskipun tidak dapat dikuasai sepenuhnya.
Selain penyerangan ke daerah Batak, Armada Aceh mengadakan se¬rang¬an ke Pasai dan Aru, sehingga kesultanan Aru dapat dikuasai Aceh pada tahun 1539 M, dan sultannya tewas dalam serangan tersebut. Sementara per¬mai¬su¬ri¬nya yang berasal dari Malaka melarikan diri ke Johor. Di sana ia meminta bantuan kepada kepada Sultan Johor. Dengan bantuan tentara Johor, Aru dapat membebaskan diri tahun 1540 M. Kemudian pada tahun 1564 M Aceh dapat merebut kembali Aru dari tangan Johor.
Gerakan perluasan wilayah semakin pesat ketika sultan Iskandar Muda (1607–1641 M) memerintah Aceh, sehingga Aceh mengalami masa kejayaannya. Hampir sebagian besar wilayah pulau Sumatera, kecuali Lampung dan Beng¬kulu, berada di bawah kekuasaan kesultanan Aceh. Perluasan wilayah ini ber¬dampak pada penyebaran agama Islam di daerah yang menjadi taklukkan ke¬sultanan Aceh. Di kota-kota pelabuhan, seperti Singkel, Barus, Pariaman, Tiku dan Indrapura, agama Islam tersebar. Dari kota-kota pelabuhan itu, terutama dari Pariaman, agama Islam disebarkan oleh prajurit dan ulama Aceh ke dae¬rah pedalaman. Rakyat Minangkabau yang semula beragama Hindu, lama ke¬lamaan memeluk agama Islam. Pengislaman rakyat Minangkabau secara me¬rata terjadi pada pertengahan abad ke-16 M.
Pengaruh agama Islam terhadap kehidupoan rakyat Aceh sangat besar sekali. Hal ini dapat dilihat pada susunan masyarakat dan pemerintahannya. Nama-nama tingkatan masyarakat dan badan pemerintahan banyak yang di¬ambil dari istilah bahasa Arab, misalnya sultan, imam, masjid, dan lain-lain.
Selama masa pemerintahan kerajaan Islam Aceh, terdapat 14 (empat belas) orang sultan. Berikut nama-nama sultan dimaksud.
1. Sultan Ali Mughaayat Syah (n 1514 – 1530 M)
2. Sultan Shalahuddin (1530 – 1537 M)
3. Sultan Alauddin Riayat Syash Al-Qahar (1537- 1568 M)
4. Sultan Ali Riayat Syah (1567-1575 M)
5. Sultan Muda (1575-1576 M)
6. Sultan Alauddin Mukmin Syah (1576 M) = 100 hari
7. Sukltan ZAinal Abidin (1576-1577 M)
8. Sultan Alauddin Manshur Syah (1`577-1585 M)
9. Sultan Ali Riayat Syah Indrapura (Raja Buyung) 1585-1588 m
10. Sultan Riayat Syah (ZAinal Abidin ) 1588-1604 M
11. Sultan Ali Riayat Syah (1607-1636 M)
12. Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M)
13. Sultan Iskandar Tsani (Alauddin Mughayat Syah 0 1636-1641M
14. Ratu Tajul Alam Syafiathtuddin Syah (1641-1676 M
3. Kerajaan Islam Palembang
Agama Islam masuk ke Palembang (Sumatra Selatan) diperkirakan pada abad ke-1 H/ke-7 M. Karena Palembang sejak lama telah menjadi tempat per¬singgahan para pedagang, baik yang akan pergi ke negeri Cina dan daerah Asia Timur lainnya, maupun yang akan melewati jalur Barat ke India dan ne¬ge¬ri Arab serta terus ke Eropah.
Dalam perkembangan selanjutnya, daerah ini menjadi pusat peme¬rin¬tahan dengan berdirinya kerajaan Islam Palembang pada abad ke 15 M. Ke¬rajaan Islam Palembang berdiri setelah berakhirntya kerajaan Budha Sriwijaya. Palembang asalnya adalah daeerah taklukan Kerajaan Majapahit. Salah seorang Adipati Majapahit yang berkuasa di Palembang adalah Ario Damar (1455-1486 M). Ario Damar kemudian beristrikan Putri Campa, bekas isteri dari Prabu Brawijaya, Sri Kertabumi (1474-1478). Perkawinan puteri Campa dengan Prabu Brawijaya ini menghasilkan seorang anak lelalki bernama Raden Fatah yang dilahirkan di Palembang pada tahun 1455 M dan dibesarkan oleh ayah tirinya Ario Damar. Raden Fatah inilah yang kemudian menjadi pendiri kerajaan Is¬lam Palembang.
Selama masa pemerintahan kesultanan Palembang, terdapat 21 orang penguasa. Mereka adalah sebagai berikut:
1 Ario Abdillah ( Ario Dillah atau Ario Damar (859-891H/1455-1486 M)
2. Pangeran Sedo Ing Lautan ( 943-959H/1547-1552 M)
3. Kyai Gedeh Ing Suro Tuo (959-981H/1552-1572 M)
4. Kyai Gedeh Ing Suro Mudo (Kyai Mas Anom Adipati Ing Suro) (981-998 H/ 1573-1590 M).
5 Kyai Mas Adipati (998-1003H/1590-1595 M)
6 Pangeran Madio Ing Angsoko (1003-1038 H/1595-1629 M).
7 Pangeran Madi Alit (1038-1039 H/1629-1630 M)
8 Pangeran Sedo Ing Puro (1039-10491 H/1630—1639 M)
9 Pangeran Sedo Ing Kenayan (1049-1061 H/1639-1650 M)
10 Pangeran Sedo Ing Pasarean (1061-1062 H/1651-1652 M)
11 Pangeran Sedo Ing Rajek (1062-1069 H/1652-1659 M)
12 Kyai Mas Endi, Pangeran Ario Kesuma Abdurrohim, Sultan Susuhunan
Abdurrahman-Khalifatul Mukminin Sayiduil Imam (1069-1118 H/1659-1706 M)
13 Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago (1118-1126 H/1706-1714 M)
14. Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno (1126-1136 H/1714-1724 M)
15. Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (1136-1171H/1624-1758 M)
16. Sultan susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo (1171-1190 H/1758-1776 M)
17. Sultan Muhammad Bahaudin (1190-1218 H/1776-1803 M)
18. Suiltan Susuhaunan Mahmud Badaruddin (1218-1236 H/1803-1821 M)
19. Sultan Susuhunan Husin Dhiauddin ( 1228-1233 H/1813-1817 M)
20. Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu (1234-1236 H/1819-1821 M)
21. Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom (1236-1238 H/1823-1825 M).
Setelah kerajaan Majapahit runtuh, Palembang menjadi daerah yang ber¬ada di bawah perlindungan kerajaan Islam Demak-Pajang, kemudian kerajaan Mataram selama 71 tahun. Penguasa Demak di Palembang yang pertama ada¬lah Pangeran Sedo Ing Lautan. Ia wafat di jawa waktu pulang ke Palembang se¬telah mengantarkan upeti ke Demak. Pangeran Sedo Ing Lautan ini masih ke¬tu¬runan Raden Fatah.
Ketika huru-hara antara Demak dan Pajang berkecamuk, serombongan priyayi berjumlah 24 orang meninggalkan tanah Jawa. Kepala rombongan ini kemudian dikenal dengan sebutan Kiyai Gedeh Ing Suro dan di Palembang lazim disebut Kiyai Gedeh Ing Suro Tuo. Ia adalah putera dari Pangeran Sedo ing Lautan.
Kiyai Gedeh Ing Suro Tuo dengan saudara-saudaranya ,antara lain sau¬dara perempuan Nyai Gedeh Ilir menetap di perkampungan Kuto Gawang, suatu daerah sekitar kampung Palembang Lamo sekarang ini. Kiyai Gedeh ing Surom Tuo tidak mempunyai anak, sedang Kiyai Gedeh Ilir bersuamikan orang Sura¬baya. Puteranya bernama Kiyai Mas Anom Adipati Ing Suro, yang biasa disebut Kiyai Gedeh Ing Suro Mudo.
Dari keluarga Pangeran Sedo Ing Lautan tersebut, yang menjadi pe¬ngu¬rus Demak-Pajang di Palembang adalah;
a. Pangeran Sedo Ing Lautan tahun 1547-1552 M
b. Kiyai Gedeh Ing Suro Tuo tahun 1552-1573
c. Kiyai Gedeh Ing Suro Mudo tahun 1573-1590 M
d. Kiyai Mas Adipati tahun 1590-1595M.
Dengan beralihnya kekuasaan di Jawa dan kerajaan Demak-Pajang ke kerajaan Mataram, maka dengan sendirinya penguasa-penguasa di Palembang menjadi penguasa Mataram di Palembang , semuanya berjumlah 6 orang, yaitu;
1. Pangeran Madi Ing Angkoso tahun 1595-1630 M
2. Pangeran Madi Ali tahun 1629-1633 M
3. Pangeran Sedo Ing puro tahun 1630-1639 M , kesemuanya purtera Ki yai Gedeh Ing Suro Mudo.
4. Pangeran Sudo Ing Kenayan tahun 1639-1650 M
5. Pangeran Sudo Ing Pasarean tahun 1651-1652 M]
6. Pangeran Sudo Ing rajek tahun 1652-1659 M
Dari Pangeran Sudo Ing Rajek, kekuasan beralih kepada saudaranya, Kiyai Mas Endi. Pangeran Ario Kesumo Abdul Rahim , dan inilah yang men¬ja¬di sultan pertama dari kesultanan Palembang Darussalam, dengan gelar Sultan Susuhunan Abdul Rahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam. Dengan sebab itu maka gelar putera baru dimulai sejak pemerintahan Kayai Mas Endi.
Demikianlah riwayat singkat mengenai sejarah berdirinya Kerajaan Is¬lam Palembang.

B. Kerajaan Islam di Pulau Jawa
1. Kerajaan Islam Demak
Kerajaan Islam Demak didirikan oleh Raden Fatah atau yang dikenal de¬ngan sebutan pangeran Jimbun. Ia adalah keturunan Prabu Kerta Bhumi Bra¬wijaya V (1468-1478 ). Ia memerintah pada tahun 1500-1518 M. Pa¬da mulanya Demak adalah sebagai pusat pengajaran agama yang didirikan Raden Fatah. Ia mulai membuka pesantren pada tahun 1475 M atas perintah Sunan Ampel. Da¬lam berkembangan berikutnya, Demak menjadi pusat perda¬gangan dan akhir¬nya menjadi kerajaan Islam. Setelah menimggal pada tahun 1518 M, posisinya digantikan oleh anaknya yang bernama Adipati Unus atau pangeran Sabrang Lor (1518-1521 M).
Sebelum menjadi raja, Adipati Unus menjabat sebagai Adipati Jepara. Ketika itu, ia telah berhasil menaklukkan Bangka dan daerah pantai Barat Pulau Kalimantan. Kemudian pada tahun 1512-1513 M Adipati Unus pernah menyerang Portugis di Malaka, tetapi gagal. Serangan ini menyadarkan tentara Portugis bahwa ada kekuatan lain di Jawa yang mungkin akan mengancam ke¬kuasaannya di Malaka. Karena itu, kerajaan Demak menjadi perhatian Por¬tu¬gis. Tidak banyak yang dilakukan Adipati Unus selama menjadi raja, kecuali mengatasi berbagai pemberotakan yang terjadi pada berepara daerah tak¬luk¬kan. Keadaan ini terus berlangsung hingga ia wafat pada tahun 1521 M.
Setelah ia wafat, posisinya digantikan oleh Sultan Trenggono (1521-1546 M), Pada masa pemerintahan Sultan Ternggono, datang seorang mubaligh dari Samudra Pasai bernama Fatahillah atau Fadilah Khan. Di Demak Fatahil¬lah selain menjadi guru agama dilingkungan istana, juga sebagai penasehat sultan dan panglima tentara Demak. Kemudian Fatahillah dikawinkan dengan adik Sultan Ternggono yaitu Nyai Ratu Pembayun.
Ketika Demak semakin maju, sultan Trenggono berusa memperluas wilayah kekuasannya ke bagian Barat maupun ke Timur. Karena Portugis pada tahun 15 22 M telah memasuki wilayah Sunda kelapa. Kedatangan Portugis dikhawatirkan tidak hanya akan terjadi pengambilalihan jalur perdagangan, juga penyebaran agama Kristen yang akan menghancurkan kekuatan Islam.
Oleh karena itu, ketika kerajaan Pajajaran menjalin hubungan dengan Portugis, kerajaan Demak semakin khawatir. Kekhawatiran itu semakin men¬ja¬di ketika Pajajaran memberikan wewenang kepada bangsa Portugis untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Untuk mengantisipasi kekuatan Portugis agar tidak menyebar ke wilayah lain, maka pada tahun 1526 M Sultan Treng¬gono menyiapkan tentaranya untuk menyerang Banten dan Sunda Kelapa. Sultan Trenggono mengirim tentara dalam dua angkatan, yaitu angkatan darat dan angkatan laut di bawah pimpinan Fatahillah.
Dalam perjalanannya, tentara Demak singgah di Cirebon. Di situ, Fa¬tahillah bertemu dengan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), yang tidak lain menantunya sendiri. Dalam kesempatan itu, Fatahillah memperoleh bantuan bala tentara, sehingga pasukan Demak berjumlah sekitar 1967 personel dengan persenjataan yang cukup lengkap.
Sebelum menyerang Sunda Kelapa, Fatahillah terlebih dahulu menye¬rang Banten. Tanpa banyak perlawanan, pelabuhan Banten dapat ditundukkan tahun 1526 M. Penyerangan ke Sunda Kelapa baru dilakukan setahun kemu¬di¬an. Meskipun mendapat tantangan dan perlawanan dari pasukan Pajajaran di daratan, kekuatan Pajajaran dapat dikalahkan. Sementara serangan Portugis dari lautan, juga dapat dikalahkan. Pasukan Fransisco de Sa melarikan diri ke Malaka. Dengan demikian, maka Banten dan Sunda Kelapa dapat ditaklukkan dengan mudah dan menjadi bagian dari kerajaan Islam Demak. Sunda Kelapa ditaklukkan pada tanggal 22 Juni 1527 M.
Usaha perluasan wilayah Timur dilakukan oleh sultan Trenggono pada tahun 1546 M. Dalam serangan ke Jawa Timur ini, sultan Trenggono gugur, se¬hingga pasukan Demak mengundurkan diri dan kembali ke Demak. Sepe¬ning¬gal sultan Trenggono, posisinya digantikan oleh puteranya bernama sultan Pra¬woto yang hanya memerintah kurang lebih satu tahun, sebab pada tahun 1546 M, ia terbunuh.
Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, penyebaran Islam mem¬per¬oleh perhatian besar. Mesjid Demak yang dibangun Raden Fatah, dipugar kem¬bali oleh Sultan Trenggono. Pada masa ini hidup empat orang dari sembilan wali yang terkenal dengan sebutan Wali Songo. Empat orang wali itu ialah;
a. Sunan Gunung Jati
b. Sunan Kudus (Syekh Ja’far Shadiq)
c. Sunun Kalijogo (Raden Mas Joko Sa’id)
d. Sunan Muria (Raden Prawoto) atau kadang-kadang disebut juga Raden Umar Said.

2. Kerajaan Islam Pajang
Kesultanan Pajang merupakan pelanjut dari kesultanan Demak. Kesul¬tanan yang terletak di daerah Kertasura sekarang, meruapakan kerajaan Islam pertama yang berada di pedalaman Jawa. Usia kesultanan ini tidak lama, ka¬rena diambil alih oleh kerajaan Mataram. Sultan atau raja pertama dari kerajaan ini adalah Jaka Tingkir, menantu Trenggono. Ia berasal dari dari Pengging, sebuah desa di lereng gunung Me¬rapi. Ia diangkat oleh mertuanya menjadi penguasa Pajang. Pada tahun Se¬telah Sultan Trenggono meninggal pada tahun 1546 M, di De¬mak ter¬jadi perebutan kekuasaan. Konon, Jaka Tingkir yang telah menjadi penguasa Pajang, segera mengambil alih kekuasaan, karena pewaris tahta kerajaan bernama Sunan Prawoto tewas dibunuh oleh Aria Penangsang, kemenakannya sendiri yang ketika itu menjadi penguasa Jipang. Setelah mengambil alih kekuasaan, Jaka Tingkir meminta agar semua pusaka kerajaan dipindahkan ke Pajang. Jaka Tingkir yang bergelar Sultan Adiwijaya, adalah seorang penguasa yang sangat berpengaruh pada masa itu. Pada masanya, Islam berkembang dengan pesat terutama di pedalaman. Karena pindahnya pusat kekuasaan dari pesisir ke pedalaman pulau Jawa.
Pada masanya, Jaka Tingkir berusaha memperluas wilayah kekua¬sa¬an¬nya ke pedalaman, hingga ke arah Timur daerah Madiun, di aliran anak sungai Bengawan Solo. Setelah itu, secara berturut-turut ia dapat menaklukkan Blora tahun 1554 M, dan Kediri tahun 1577 M. Kemudian pada tahun 1581 M,ia men¬dapat pengakuan sebagai raja Islam dari raja-raja yang bekruasa di Jawa Timur. Pada masa kepemimpinannya terdapat pula perkembangan peradaban Islam di Jawa, terutama sastra dan kesenian yang memang sebelumnya telah maju pada masa kerajaan Demak.
Sultan Pajang meninggal pada tahun 1587 M, setelah berkuasa selama le¬bih kurang 41 tahun. Ia dimakamkan di desa Butuh, sebelah Barat taman Ke¬ra¬jaan Pajang. Posisinya ini diambil alih oleh menantunya bernama Aria Pa¬ngiri, anak susuhunan Prawoto, yang ketika itu ia menjabat sebagai penguasa di Demak. Setelah menetap di Pajang, ia membawa semua pengawal dari istana Demak untuk membantu pemerintahannya. Sementara anak Jaka Tingkir ber¬nama Pangeran Benawa diangkat sebagai penguasa di Jipang. Tapi tidak ia tidak puas atas pengangkatan tersebut, karena ia berada di sebuah daerah yang masih asing baginya, selain karena proses perpindahan keraton Demak ke Pajang. Untuk mengatasi hal itu, Pengeran Benawa meminta bantuan kepada Senopati, penguasa Mataram, guna mengu-sir Aria Pangiri dari Pajang. Maka pada tahun 1588 M, usaha itu berhasil. Se¬bagai balas jasa, tahta itu akan dise¬rahkan kepada Senopati. Tetapi Senopati tidak dapat mening¬gal¬kan Mataram. Ia hanya menginginkan agar pusaka ke¬ra¬jaan dibawa ke Ma¬taram sebagai sim¬bol penyerahan kekuasaan. Meskipun be¬gitu, Pangeran Benowo tetap menjadi raja yang berada di bawah perlindungan Mataram.
Perjalanan sejarah kerajaan Pajang berakhir pada tahun 1618 M, ketika Pajang berusaha melawan kekuatan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung. Rajanya melarikan diri ke Giri dan Surabaya.

3. Kerajaan Islam Mataram
Awal pembentukan kerajaan Mataram adalah ketika Sultan Adiwijaya dari Pajang meminta bantuan kepada Ki Pamanahan yang berasal dari peda¬la¬man untuk menghadapi pemberontakan Aria Penangsang. Sebagai balas jasa, sultan memberinya hadiah daerah Mataram, yang menurunkan raja-raja Islam Mataram. Pada tahun 1577 M, Ki Gede Pamanahan menempati istana barunya di Mataram. Dia digantikan oleh puteranya, Senopati pada tahun 1584 M dan dikukuhkan oleh Sultan Pajang. Senopatilah yang dianggap sebagai Sultan Mataram pertama, setelah pangeran Benawa menawarkan kekuasaan atas Pajang kepada Senopati. Meskipun Senopati menolak dan hanya meminta pusaka kerajaan, dalam tradisi Jawa penyerahan itu merupakan simbol penye¬rahan kekuasaan.
Senopati kemudian berkeinginan menguasai semua kerajaan yang ber¬a¬da di bawah pengaruh kerajaan Pajang. Tetapi keinginannya itu tidak men¬da¬pat dukungan apalagi pengakuan dari para raja di Jawa Timur yang me¬ru¬pa¬kan kerajaan yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Demak- Pajang. Mes¬ki¬pun begitu, ia terus berusaha memperoleh pengakuan dengan cara peperangan dan penyerangan ke Jawa Timur. Usaha itu membuahkan hasil, karena seba¬gi¬an wilayah Jawa Timur dapat ditaklukkannya.
Senopati meninggal dunia pada tahun 1601 M, dan posisinya digantikan oleh puteranya bernama Seda Ing Krapyak yang berkuasa hingga tahun 1613 M. Setelah itu, posisinya digantikan oleh puteranya bernama Sultan Agung. Pada masa ini, Sultan Agung berusaha melanjutkan usaha ayahnya untuk memper¬luas wilayah kekuasaan, termasuk menguasai wilayah Jawa Timur se¬cara kese¬luruhan. Pada masa inilah terjadi montak senjata pertama dengan Be¬landa.
Kemudian pada tahun 1630 M Sultan Agung menetapkan Amangkurat I sebagai putera mahkota yang akan menggantikan Sultan Agung kelak. Karena itu, ketika Sultan Agung meninggal pada tahun 1646 M, Amangkurat I menjadi penguasa Mataram. Selama masa pemerintahannya, selalu terjadi konflik. Da¬lam setiap konflik, kelompok penentang Amangkurat I selalu didukung oleh para ulama. Karena itu, kebijakan yang diambilnya adalah menumpas pen¬du¬kung Pangeran Alit, yaitu para ulama. Amangkurat I berkeyakinan bahwa ula¬ma dan para santri merupakan ancaman bagi kekuasannya. Karena itu, mereka harus ditumpas.
Oleh karena itu, pada tahun 1647 M, terjadi pembantaian para ulama dan keluarganya. Jumlah kurban yang tewas terbunuh ketika itu diperkirakan sekitar 5000-6000 orang, terdiri dari para ulama, dan keluarganya. Akibatnya, banyak timbul pemberontakan yang dilakukan oleh para ulama. Di antara pemberon¬takan yang terukir dalam sejarah adalah pemberontakan yang di¬pimpin oleh Kyai Kejoran pada tahun 1677-1678 M. Pemberontakan ini ber¬dampak pada stabilitas politik dan kekuasaan, yang berujung pada keja¬tuh¬an dan kehan¬cur¬an kerajaan Islam Mataram.
Selama masa kekuasaan Mataram, terdapat 10 orang raja. Mereka ada¬lah; Sutowijoyo 1586-1601 M, Mas Jolang ( Panembahan Sedo Ing Krapyak 1601-1613 M), Sultan Agung 1613-1645 M, Amangkurat I 1646-1677 M, Amang¬kurat II 1677-1703 M, Amangkurat III 1703-1705 M, Pakubuwono I 1705-1719 M, Suana Prabu 1719-1727 M, Pakubowono II 1727-1747 M, Pakubuwono III 1749-1788 M.

5. Kerajaan Islam Cirebon
Kesultanan Cirebon merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Daerah Cirebon pada awal abad ke-16 M merupakan sebuah daerar kecil di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Raja Pajajaran hanya menempatkan seorang syahbandar (juru pelabuhan) di sana, bernama Pangeran Walangsungsang. Ia adalah seorang tokoh yang memi¬liki hubungan darah dengan raja Pajajaran. Ketika berhasil memajukan Cire¬bon, ia telah memeluk Islam. Akan tetapi, orangn yang berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi kerajaan adalah Sunan Gunung Jati, pengganti dan kemena¬kan Pangeran Walangsungsang.
Selain sebagai kemenakan, Sunan Gunung Jati juga memiliki hubungan darah dengan Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang menikahi Nyai Subang La¬rang pada tahun 1422 M. Dari hasil perkawinannya ini lahirlah tiga orang pu¬tera, yaitu Raden Walangsungsang, Nyai Larasantang, dan Raja Sengara. Sunan Gunung Jati adalah putera Nyai Lara Santang dari perkawinannya dengan Maulana Sultan Mahmud alias Syarif Abdullah dari Bani Hasyim, ketika Nyai itu naik haji.
Disebutkan bahwa Sunan Gunung Jati lahir pada tahun 14418 M, dan wafat pada tahun 1568 M dalam usia 120 tahun. Karena kedudukannya sebagai salah seorang wali dari walisongo, ia mendapat penghormatan dari raja-raja lain di Jawa, seperti Demak dan Pajang. Setelah resmi berdiri sebagai kerajaan Islam. Cirebon lepas dari kerajaan Pajajaran. Dengan kedudukannya itu, Sunan Gunung Jati berusa meruntuhkan kerajaan Pajajaran yang belum menerima Islam itu.
Oleh karena itu, dari Cirebon Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam ke daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Ga¬luh), Sunda Kelapa, dan Banten. Dasar dari pengembangan Islam dan per¬da¬gangan di wilayah Banten dilakukan oleh Sunan Gunung Jati pada tahun 1525 M. Ketika ia kembali ke Cirebon, Banten diserahkan kepada anaknya ber¬nama Sultan Hasanuddin. Sultan inilah yang menurunkan raja-raja Banten. Di tangan raja-raja Banten tersebut, akhirnya kerajaan Pajajaran dapat dikalahkan. Ber¬da¬sarkan prakarasa Sunan Gunung Jati, penyerangan ke wilayah Sunda Kelapa dilakukan, sehingga pada tahun 1527 M, wilayah ini dikuasai.
Setelah Sunan Gunung Jati wafat, posisinya digantikan oleh cicitnya bernama Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Panembahan Ratu ini wafat pada tahun 1650 M dan posisinya digantikan oleh puteranya bernama Panem¬bahan Girilaya. Keutuhan Cirebon sebagai kesultanan hanya bertahan hingga Girilaya itu. Sebab setelah ia wafat, dan sesuai dengan kehendaknya, Cirebon diperin¬tah oleh dua orang putera mahkota, yaitu Martawijaya atau Panembahan Se¬puh dan Kertawijaya atau Penembahan Anom. Panembahan Sepuh memimpin kesul¬tanan Kasepuhan, sebagairajanya yang pertama bergelar Syamsuddin., Semen¬ta¬ra Panembahan Anom memimpin kesultanan Kanoman dengan gelar Bad¬rud¬din.

6. Kerajaan Islam Banten.
Kesultanan Banten didirikan oleh Sunan Gunung Jati pada tahun 1526 M atas bantuan Fatahillah, yang tengah memimpin tentara Demak dan Cirebon guna merebut wilayah Pajajaran dan penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat. Ketika akan kembali ke Cirebon, Banten diserahkan kepada puteranya bernama Sultan Hasanuddin. Berkembangnya Kerajaan Islam Banten didorong oleh banyaknya kapal da¬gang yang lewat di perairan Banten. Banten yang terletak di pantai utara Pulau Jawa bagian Barat, dekat Selat sunda, menjadi daerah yang sanagat strategis, terutama sejak kejatuhan Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 M. Sejak itu, banyak saudagar Islam yang membawa barang dagangan dari wi¬layah Indonesia bagian Timur, tidak mau lagi singgah dui Malaka. Mereka ti¬dak mau berniaga dengan orang Portugis yang berlainan agama. Dengan de¬mi¬kian, secara perlahan namu pasti, Banten menjadi tempat persinggahan utama bagi para pedagang yang datang dari berbagai penjuru.
Sultan Hasanudin memerintah pada tahun 1552-1570 M, mula-mula Ban¬ten ada dalam kekuasaan Kerajaan Islam Demak, tetapi ketika di Damak terjadi kakacauan, Sultan Hasanuddn menyatakan Banten bebas dari kekuasaan Raja Demak. Pada masa Sultan Hasanuddin terjadi penyebaran Islam ke daerah Lampung. Selain itu, juga terjadi hubungan persahabatan dengan Sultan Aceh yang menguasai wilayah Indrapura. Bahkan hubungan itu diperkuat dengan pernikahan antar Sultan Hasanuddin dengan puteri Indrapura. Setelah bebe¬ra¬pa lama, pengembangan agama Islam di Lampung dan Bengkulu makin maju. Mesjid-mesjid dan tempat pendidikan Islam bermunculan di kedua daerah itu.
Setelah Sultan Hasanuddin wafat pada tahun 1570 M, pemerintahan di¬lanjutkan oleh anaknya yang bernama Maulan Yusuf. Ia memerintah sejak tahun 1570-1580 M Pada tahun 1579 M, Maulana Yusuf mulai mengadakan penye¬baran agama Islam ke wilayah Pajajaran. Raja-raja yang terakhir yang bernama Prabu Sedah meninggal dunia, ketika menahan serangan tentara Banten yang dipimpin oleh Sulatn Maulana Yusuf. Dengan meninggalnya Prabu Sedah ini, maka berakhirlah kerajaan Hindu dan Budha di Jawa Barat. Setelah sukses menguasai wilayah Jawa Barat, pada tahun 1580 M, Maulana Yusuf meninggal dunia. Posisinya ini digantikan oleh puteranya yang bernama Maulana Muha¬mad.
Maulana Muhammad sebagai Sulatan Banten III, memerintah tahun 1580-1596 M. Ia bergelar Kangjeng Ratu Banten. Ia naik tahta sewaktu berusia 9 tahun. Oleh karena itu maka kerajaan dipegang oleh Mangkubumi dan diban¬tu oleh Tuan Kadi Besar. Pada tahun 1596 M, sewaktu berusia 25 tahun, Mau¬lana Muhamad mulai memegang pemerintahan sendiri. Pada waktu itu juag ia mengadakan serangan terhadap Kerajaan Islam Palembang yang di¬pe-rintah oleh Ki Gede Ing Suro (Kyai Gede Suro). Hal ini terjadi karena ada hasutan dari Pangeran Mas, Putera Aria Pangiri yang masih kemenakannya sendiri. Ki Gede Ing Suro memerintah Palembang sebagai Adipati yang setia kepada kerajaan Islam Mataram. Dlam penyerangan ke Palembang ini, Maulana Muhamad te¬was terbunuh.
Setelah Maulana Muhamad wafat, yang menjadi Sultan di Banten ialah Puteranya sendiri yang bernama Abdul Mafakhir. Karena masih bayi, maka pemerintahan di Banten dipegang oleh Mangkubumi Ranamanggala. Ia men¬ja¬di wali Banten tahun 1608-1624 M. Pada masa Ranamanggala Banten, mencapai kebesaran dan kejayaan. Pada waktu itu, Banten mempunyai Pelabuhan da¬gang yang besar, yaitu Banten dan Jayakarta. Untuk menjalankan pemerin¬tahan di wilayah Jayakarta, Ranamanggala mengangkat Wijayakrama sebagai Adipati.
Ketika itu, pelabuhan Jayakarta sudah ramai dikunjungi oleh bangsa Eropa, seperti Belanda, Inggeris, Portugis dan lain-lain. Pada waktu Be¬landa akan mendirikan loji di Banten, Ranamanggala menolaknya. Ke¬mu¬dian Belan¬da minta ijin kepada Wijayakrama untuk mendirikan loji di Jayakarta dan Wi¬ja¬yakrama pun mengijinkannya. Akhirnya pada tahun 1612 M berdirilah loji Be¬landa di Jayakarta, letaknya di tepi sungai Ciliwung yang berhadapan deng¬an loji Inggeris.
Pada tahun 1618 M Belanda mengusir Inggeris dari Jayakarta. Per¬buatan ini dibiarkan oleh Wijayakrama. Sebab itu kenyataannya Belanda semakin se¬wenang-wenang. Perbuatan ini diketahui oleh Ramanggala, maka Wija¬yak¬rama ditangkap dan dibawa ke Banten pada tahun 1619 M untuk ditahan, karena membiarkan perbuatan Belanda. Tindakan Ranamanggala ini menyebabkan Belanda merasa khawatir. Untuk itu, maka Jan Pieter Z.Coen minta bantuan tentara Belanda yang ada di Ambon. Bantuan dikirim dengan jumlah personel sekitar 1000 orang. Bantuan ini dimanfaatkan oleh J.P.Coen untuk menyerang Jayakarta. Maka pada tahun 1619 M, kota Jayakarta dibakar sampai habis, dan diatas reruntuhannya di¬bangun kota baru dengan nama Batavia.
Kemudian pada tahun 1624 M, Ranamanggala mangkat, sehingga ke¬ad¬aan Banten menjadi lemah. Banten mulai bangkit lagi setelah diopegang oleh Abdul Fatah yang terkenal dengan sebutan Sultan Ageng Tirtayasa, yang me¬merintah Banten dari tahun 1651-1682 M. Sultan Ageng Tirtayasa sangat anti Belanda. Sikapnya ini didukung oleh Syeikh Yusuf al-Makassary, seorang ulam dari Makasar, yang melarikan ke Banten karena Makasar diserang Belanda pada tahun 1667 M. Tetapi sikap ini tidak disetujui oleh anaknya Abdul Kahar , yang terkenal dengan sebutan Sultan Haji.
Perselisihan apaham antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan anaknya, Sultan Haji, dimanfaatkan oleh Belanda untuk menyerang Banten. Untuk me¬la¬wan ayahnya, Sultan Haji meminta Bantuan Belanda. Permintaan ini di¬ka¬bul¬kan. Karena itu, pada tahun 1681 M, terjadilah peperangan yang sangat he¬bat. Dalam pertempuran itu, kemenangan berada di tangan Sultan Haji, karena ia mendapat bantuan dari Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap Belanda pada tahun 1683 M dan dibawa ke Batavia. Kemudian pada tahun 1692 M ia meninggal ketika berada dalam tahanan Belanda.
Setelah itu, pemerintahan berada di tangan Sultan Haji yang pro Be¬lan¬da. Tapi, pemerintahan Sulatan Haji Banten tidak berkembang, keran selalu di¬atur Belanda. Oleh karena itu, ketika Deandels menjadi Gubernur Jendral di Indo¬ne¬sia pada tahun 1808-1811M, kejaaan Islam Banten dihapuskan. Sejak itu, Ke¬ra¬jaan Islam Banten tidak terdengar lagi dalam percaturan dunia Islam, khu¬sus¬nya di Nusantara.

C. Kerajaan-kerajan Islam di Kalimantan
1. Kerajaan Islam Sukadana (Kalimantan Barat)
Kerajaan Islam Sukadana terletak di Barat Daya Kalimantan. Pada tahun 1590 M. Kerajaan ini berada di bawah pengaruh Kerajaan Islam Demak. Raja pertamanya ialah Sultan Giri Kusuma. Dari Sukadana, agama Islam meluas ke daerah sepanjang pantai Kali-mantan Barat. Setelah Sultan Giri Kusuma wafat, ia digantikan oleh puteranya, yaitu Sultan Muhamad Safiuddin. Keduanya banyak berjasa dalam penyiaran agama Islam di Kalimantan.
Kemudian pada tahun 1725 M kerajan Islam Sukadana melepaskan diri dari pengaruh kerajaan Banten. Sukadana runtuh setelah Belanda mulai me¬nguasai Kalimantan pada tahun 1787 M. Kerajaan Islam Sukadana berdiri se¬la¬ma satu abad. Pada masa pemerintahan Sultan Muhamad Safiuddin, agama Islam berkembang dengan pesat di Kaliamantan. Hal itu terjadi berkat jasa seorang mubalig yang bernama Syeikh Syamsuddin.

2.Kerajaan Islam Brunai ( Kalimantan Utara)
Tidak diketahui dengan pasti mengenai waktu berdirinya kerajaan Islam Brunai. Namun ada informasi penting yang diperoleh dari orang Spanyol yang datang ke situ pada tahun 1521 M. Mereka mengatakan bahwa di Brunai ada kerajaaan Islam yang kuat. Wilayah kekuasaannya meliputi Serawak, Min¬da¬nau dan Luzon, Philipina.
Waktu Sultan Rexar memerintah di Brunai, raja Spanyol Philip ke V me¬nuntut supaya Sultan tidak menyiarkan agama Islam di Philipina, dan mem¬bo¬lehkan penyebaran Kristen di Brunai. Tuntutan ini dianggap tidak masuk akal, karenanya langsung ditolak. Penolakan ini membuat marah raja De Sando dari Philifina menyerbu Brunai. Dalam serangan ini Sultan Rexar mengalami keka¬lahan dan melarikan diri ke hutan. Sejak tanggal 20 April 1578 M Bruani men¬jadi daerah jajahan Spanyol yang dikuasai oleh De Sande raja Philipina. Setelah kejadian itu Kerajaan Islam Brunai tidak terdengar lagi ce¬ri¬tanya.

2.Kerajaan Islam Banjar (Kalimantan Selatan)
Kerajaan Islam Banjar terdapat di daerah Kalimantan Selatan. Raja yang pertama kali masuk Islam ialah Sultan Suryanullah. Sebelum masuk Islam ia beragama Hindu. Sebelum agama Islam datang di Kalimantan Selatan terdapat dua kerajaana Hindu bernama Daha dan Kahuripan. Kedua kerajaan ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Setelah Islam tersebar di Kalimantan, kerajaan Kahuripan tidak diketahui kelanjutannya, sedangkan Kerajaan Daha menjadi kerajaan Islam Banjar.
Pada awalnya, kerajaan Islam Banjar berada di bawah kekuasan kerajaan Islam Demak. Namun setelah kerajaan Islam Demak runtuh dan pindah ke Pa¬jang, kerajaan Banjar pun membebaskan diri dari pengaruh Demak. Pusat pe¬merintahan kerajaan Banjar mula-mula berada di Banjarmasin. Tapi kemudian pindah ke Martapura. Dengan berdirinya kerajaan ini maka Islam di Kali¬man¬tan makin lama makin berkembang.
Sultan Suryanullah memerintah dari tahun 1550-1620 M. Setelah Sultan Suryanullah wafat, posisinya digantikan oleh Sultan Rahmatullah, yang meme¬rintah dari tahun 1620-1642 M. Setelah Sutan Rahmatullah meninggal, po¬si¬si¬nya digantikan oleh Sultan HIdayatullah (1642-1650 M). Kemudian pada tahun 1650 M ketika Sultan Musta’in billah memerintah, pusat pemerintahan kerajaan Banjar dipindahkan dari Martapura ke Batang Mangapan. Sultan Musta’in bil¬lah memerintah dari tahun 1678-1685. Pada tahun 1685 M sampai 1700 M ke¬ra¬jaan Banjar diperintah oleh Sultan Sa’adillah.
Sewaktu terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Amir dan Pageran Nata, Belanda datang ke Banjar karena diminta bantuan oleh pangeran Nata. Dalam pertempuran ini pangeran Nata mendapat kemenangan. Sejak tahun 1786 M kerajaan Banjar berada di bawah kekuasaan pemerintah.

C. Kerajaan Islam di Sulawesi
Sebelum berdiri kerajaan-kerajaan Islam, di Sulawesi terdapat bebe¬rapa kerajaan, seperti kerajaan Luwu, Sidenreng, Wajo, Sppeng, Ajatappareng, Go¬wa dan Tallo. Kerajaan Bone, merupakan kerajaan Bugis, yang membawahi ke¬rajaan Luwu, Sidenreng, Wajo, Soppeng, Ajatappareng dan Ternate. Sementara Gowa dan Tallo, merupakan dua kerajaan kembar yang didirikan oleh orang Makasar. Bone berpusat di Luwu, sedangkan Gowa-Tallo berpusat di Sampo¬apu yang kemudian berubah menjadi Makasar.
Setelah agama Islam berkembang di Sulawesi, maka timbullah beberapa kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Islam Gowa (Makasar), Bugis, Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo.



1. Kerajaan Islam Gowa
Kerajaan Islam Gowa berdiri pada tahun 1591 M. Raja pertama yang masuk Islam adalah Karaeng Tonigallo dan mengganti namanya dengan Sultan Alauddin Awwalul Islam. Ia memerintah dari tahun 1591-1638 M. Pada tahun 1603 M, kerajaan Islam Gowa diporklamirkan sebagai kerajaan Islam Makasar.
Setelah wafat pada tahun 1638 M, posisinya digantikan oleh anaknya bernama Hasanuddin. Ia dilahirkan pada tanggal 12 Januari 1631 M. Nama ke¬cilnya adalah Mallombassi atau Muhamad Bakir. Setelah dewasa ia bergelar Daeng Mattawang. Sebagai anak raja Gowa, ia bergelar Karaeng Bonto¬mang¬a¬pe. Setelah dinobatkan sebagai raja Makasar ke 16, ia bergelar Sultan Hasanud¬din, yang memerintah dari tahun 1653-1669 M. Pada masa pemerintahannya, kerajaan Islam Gowa mencapai masa kejayaannya, sehingga Gowa menjadi kerajaan Islam terbesar di Indonesia Timur.
Ketika Belanda berusaha ingin memonopoli perdagangan rempah-rem¬pah di Indonesia Timur, ditentang habis-habisan oleh Sultan Hasanuddin. Penentangan ini membuat marah Belanda (VOC) dengan melakukan serangan ke Gowa. Serangan Belanda di bawah pimpinan Cornelis Janszoon Speelman, mendapat bantuan dari Aru Palaka dan pasukan Bugisnya. Serangan ini menyebabkan Gowa mengalami kekalahan. Untuk mengikat kekuatan atas kemenangan Belanda, diadakan perjanjian Bongaya pada tanggal 18 Nopember 1667 M.
Perjanjian itu berisi :
a. VOC berhak menguasai dan memonopoli perdagangan di Makasar.
b. Sultan Hasanuddin harus mengakui kekuasaan VOC di Makasar.
c. Sultan Hasanuddin harus membayar seluruh biaya perang.
d. Aru Palaka ditetapkan sebagai raja.

Pada tanggal 12 April 1668 M, terjadi lagi peperangan antara kerajaan Gowa dengan VOC. Pertempuran yang berjalan lebih kurang satu tahun me¬nyebabkan jatuhnya benteng Som¬bao¬pu ke tangan Belanda pada tanggal 24 Ju¬ni 1669 M. Setelah itu, Sultan Hasanuddin mengundurkan diri dan akhirnya wafat pada tanggal 23 Muharam 1801 H/12 Juni 1670 M. Sejak saat itu, tidak terdengar lagi cerita mengenai kerajaan Islam Gowa.

2. Kerajaan Islam Bugis
Kerajaan Bugis berdiri pada tahun 1335 M. Raja Bugis ke-9 masuk Islam ber¬sama rakyatnya, setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran mela¬wan Gowa. Setelah masuk Islam, raja Bone terkenal dengan pemimpin yang taat menjalankan syari’at Islam. Hal ini dapat dilihat dari pemberlakukan hu¬kum Islam yang diterapkan oleh Lamadda Remeng, raja Bugis ke-13 kepada mereka yang melanggar hukum Islam.
Wilyah kekuasaan kerajaan Islam Bugis meliputi beberapa wilayah seperti. Wajo, Soppeng, Sindereng, Ternate. Kerajaan ini berpusat di Luwu, karena letaknya yang sangat strategis terutama dalam jalur perdagangan internasional ketika itu.

E. Kerajaan Islam di Maluku
1. Kerajaan Islam Ternate
Raja Ternate pertama yang masuk Islam adalah Raja Gappi Baguna, yang kemudian dikenal sengan sebutan Marhum. Ia masuk Islam atas ajakan Maulana Husen. Setelah masuk Islam, kerajaan Ter¬na¬te diproklamirkan sebagai kerajaan Islam.
Raja Gappi Baguna memerintah dari tahun 1465-1486 M. Setelah wafat, posisiya digantikan oleh anaknya bernama Zainal Abidin. Setelah naik tahta, pada tahun 1495 M, ia pergi ke Jawa untuk belajar ilmu agama kepada Sunan Giri. Sedang urusan pemerintahan diserahkan kepada wakilnya, yaitu Sultan Sirullah. Sultan ini sangat aktif menyebarkan Islam, dan menentang keras usaha bangsa Portugis dalam menyebarkan agama Kristen. Selain itu, ia juga menen¬tang keinginan Portugis untuk memonopoli perdagangan di wilayah itu. Ka¬re¬na ia khawatir bangsa Arab, India, Persia, Jawa dan Maluku, pergi me¬ning¬galkan Ternate. Karena akan berdmpak pada perekonomian dan kekuatan kerajaan Islam Ternate.
Akan tetapi, usaha keras yang dilakukan Sultan Sirrullah, tidak dilanjut¬kan dengan serius oleh penerusnya, yaitu Sultan Khairun. Sebab pada masa ini, terjadi perjanjian antara Sultan Khairun dengan bangsa Portugis yang diwakili oleh de Mesquita, gubernur Portugis yang berkedudukan di Malaka yang ingin memonopoli perdagangan dan penyebaran agama Kristen.
Dalam perjanjian itu, de Mesquita menganggap bahwa Ternate merupa¬kan bagian dari negara jajahan Portugis. Namun dalam perkembangan selan¬jutnya, ketika Sultan Khairun tidak tahan melihat kesewenangan Portugis di Ternate, pada tahun 1565 M ia mengumumkan perang melawan Portugis. Me¬rasa kewalahan, Portugis meminta bantuan tentara Portugis yang ada di Ma¬laka dan Gowa.
Pertempuran itu dimenangkan oleh Sultan Khairun. Bangsa Portugis meminta perdamaian. Usulan itu diterima Sultan Khairun, dengan catatan se¬mua orang Kristen dan Portugis ke luar dari Ternate, tapi diperbolehkan ting¬gal di Ambon. Selain itu, Sultan Khairun bersedia berdagang dengan Portugis asal tidak menyebarkan agama Islam di wilayah kekuasaan Ternate. Semua perjanjian itu akan ditandatangani pada tanggal 28 Februari 1570 M. Namun sebelum ditandatangai, terjadi pembunuhan terhadap Sultan Khairun yang dila¬kukan oleh pengawal pribadi de Mesquita. Peristiwa ini membuat kacau sasana, sehingga banyak pengikut Sultan Khairun melarikan diri, dan mela¬por¬kan peristiwa pengkhianatan itu kepada Sultan Babullah, anak Sultan Khairun.
Informasi yang disampaikan itu membuat marah Sultan Babullah yang menggantikan kedudukan ayahnya (1570-1583 M). Untuk itu, ia mengu¬mum¬kan perang melawan Portugis. Peperangan antara Sultan Babullah dengan Portugis terjadi pada tahun 1575 M. Kemenangan berada pada pihak Sultan Babullah. Akibatnya, semua orang Portugis dan pemeluk Kristen diusir ke Ma¬laka atau Ambon. Mereka boleh menetap di Ternate, asal mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh kerajaan Islam Ternate. Kemanangan ini menambah ha¬rum nama Babullah dan kekuatan kerajaan Islam Ternate. Sehingga Islam tersebar dengan luas di seluruh wilayah kekuasaan kerajaan Islam Ternate.
Pada tahun 1563 M Sultan Babullah wafat, dan posisinya digantikan oleh anaknya bernama Sa’iduddin Barakat. Pada masa pemerintahannya, Belanda mulai datang ke Maluku pada tahun 1599 M untuk berdagang rempah-rempah. Kemudian pada tahun 1600 M, mereka mulai membawa armadanya di bawah pimpinan Van Den Hagen. Tujuannya adalah menguasai Ternate. Monopoli perdagangan dan kekuatan militer yang dimiliki Belanda, akhirnya Ternate dapat dikuasai dan menjadi daerah jajahan Belanda.

2. Kerajaan Islam Tidore
Kerajaan Tidore merupakan salah satu kerajaan yang ada di Maluku. Se¬telah Cirililiyati berkuasa, ia menjadi muslim dan mengganti namanya men¬jadi Sultan Jamaluddin. Orang yang mengislamkan dirinya adalah seorang ulama bernama Syeikh Mansur.
Wilayah kekuasaan kerajaan Todore meliputi daerah Halmahera, Pantai Barat Irian Jaya dan sebagian Pulau Seram. Setelah Sultan Jamaluddin mening¬gal, posisinya digantikan oleh puteranya bernama Sultan Mansur, nama yang diambil dari orang yang mengislamkannya.
Ketika bangsa Spanyol datang ke Maluku pada tahun 1521 M, kerajaan Islam Tidore telah berdiri lebih kurang sekitar 50 tahun. Sultan Mansur inilah yang menerima kedatangan orang Portugis yang datang ke Tidore. Rom bongan bangsa Portugis ini merupakan pecahan dari rombongan Magelhaens yang datang ke Philipina.

3. Kerajaan Islam Bacan
Selain kerajaan Islam Tidore, di Maluku juga terdapat kerajaan Islam Bacan. Wilayah kerajaan Islam Bacan meliputi kepulauan Bacan, Obi, Waigeo, Salawati dan Misool. Raja Bacan yang pertama kali masuk Islam pada tahun 1521 M adalah Kacil Buka, dan mengganti namanya dengan Sultan Zanul Abi¬din.
Ketika bangsa Portugis menmguasai kepulauan Mauluk, sultan-sultan yang memerintah kerajaan Islam Bacan dipaksan memeluk agama Kristen. Dengan demikian, kerajaan Islam Bacan tinggal nama dan tidak memiliki kekuatan apapun terhadap penguasa Portugis di kepulauan Maluku dan sekitarnya.

4. Kerajaan Islam Jailolo.
Kerajaan Islam Jailolo berdiri pada tahun 1521 M. Wilayahnya meliputi sebagian Halmahera dan Pesisir Pulau Seram. Raja Jailolo pertama yang masuk Islam adalah raja yang ke-9, dan berganti nama menjadi Sultan Hasanuddin.
Dalam perkembangan selanjutnya, baik kerajaan Bacan maupun Jailolo, tidak banyak dibicarakan, terutama setelah wilayah Timur kepulauan Indo¬ne¬sia dikuasai oleh bangsa-bangsa Eropa, seperti bangsa Portugis, Spanyol Be¬landa, dan lain-lain. Bahkan kerajaan Jailolo dihapuskan dan disatukan dengan kerajaan Bacan, yang telah berada di bawah kekuasaan bangsa Portugis.



Ringkasan
Secara teoritis dan didasari atas fakta-fakta sejarah yang ada menunjuk¬kan, bahwa agama Islam mulai datang ke wilayah Nusantara dimulai sejak abad-abad pertama hijriyah atau sekitar tahun 674 M. Sejak saat itu, agama Islam terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan, bahkan tidak hanya dalam aspek dakwah, juga dalam aspek-aspek lainnya, terutama aspek politik. Sejak memasuki wilayah politik, di Nusantara mulai bermunculan kerajaan-kerajaan Islam lokal, mulai dari wilayah Aceh, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan sekitarnya.
Kerajaan Islam pertama yang berdiri di Nusantara adalah kerajaan Islam Samudera yang didirikan pada tahun 1258 M. Raja pertama dari kerajaan ini adalah Merah Silu, yang bergelar Malikus Saleh. Ia memerintah sejak tahun 1258 hingga 1257 M. Dalam menjalankan pemerintahan, ia dibantu oleh dua orang kepercayaan, yaitu Seri Kaya bergelar Sidi Ali Khiantuddin, dan Bawa Kaya yang bergelar Sidi Ali Hasanuddin. Sepeninggal Malikus Saleh, posisinya digantikana oleh puteranya bernama Sultan Muhamad (1297-1326 M0 bergelar Sultan Malikudzahir I. Kerajaan ini mendapat serangan dari kerajaan Majapahit pada tahun 1377 M, sehingga kerajaan yang ketika itu dipimpin oleh Sultan Zainal Abidin. Serangan ini memperburuk situasi, sehingga kerajaan Islam Samudera Pasai lama kelamaan mengalami kelemahan. Kerajaan ini baru mulai bangkit kembali ketika dipimpin oleh Sultan Iskandar, karena ia berhasil menjalin kerjasama dengan kerajaan Tiongkok, terutama dalam bidang perdagangan dan keamanan. Setelah Sultan Iskandar meninggal, pusat perdagangan pindah ke Malaka, sehingga kerajaan Islam Samudera Pasai kehilangan devisa untuk kemajuan perekonomiannya.
Kerajaan Islam lain yang ada di Aceh adalah kerajaan Islam Aceh yang didirikan pada tahun 1514 M oleh Ali Mughayat Syah. Kerajaan Islam ini mengalami perkembangan yang cukup pesat ketika berada di bawah kepe¬mimpinan Sultan Iskandar Tsani (1636-1641 M). Pada masanya Aceh menjadi pusat perdagangan, pusat peradaban Islam dan pusat intelektual muslim. Di sini muncul ulama terkenal, antara lain Nuruddin ar-Raniri, yang terkenal deng¬an sebutan Syaikhul Islam. Sementara itu, di Palembang juga pernah berdiri kerajaan Islam yang didirikan pada abad ke-15 M. Kerajaan lebih merupakan daerah Vazal yang ada di bawah kekuasaan kerajaan Islam Demak-Pajang, di Pelambang.
Di Jawa, kerajaan Islam pertama yang berdiri adalah kerajaan Islam Demak yang didirikan oleh Raden Fatah (1500-1518 M). Palembangterkenal kerajaan Islam Demak setelah itu terus berusaha memperluas wilayah kekuasaan hingga ke luar Jawa. Para raja Demak selalu didampingi oleh penasihat spiritual dari para ulama yang di Jawa dikenal dengan sebutan wali. Para wali yang menjadi penasihat raja-raja Demak disebut walisanga atau sembilan orang wali. Para walisanag inilah yang kemudian menyebarkan Islam ke seluruh Jawa, bahkan pengaruhnya melampaui pulau Jawa hingga ke Sulawesi dan Kalimantan.
Setelah kerajaan ini mengalami kelemahan karena konflik internal, akhirnya pusat kekuasaan pindah ke Pajang. Di daerah inilah kemudian berdiri kerajaan Islam Pajang, yang merupakan penerus kerajaan Islam Demak. Kemudian pada tahun 1577 M, Ki Gede Pamanahan memindahkan pusat kekuasaan ini ke Mataram, dan pada tahun 1548 M, Senopati, anak Ki Gede Pamanahan dinobatkan sebagai raja Mataram pertama. Kerajaan inilah yang menjadi cikal bakal kesultanan Yogyakarta dan Solo. Pada masa kerajaan Islam di Jawa Tengah, baik Demak, Pajang dan Matarm, terjadi perkembangan peradaban Islam yang cukup besar. Kerajaan-kerajaan tersebut tidak hanya sebagai pusat kekuasaan politikk, juga pusat peradaban Islam Jawa.
Selain Demak, Pajang dan Mataram, di Jawa juga ada kerajaan Islam Cirebon dan Banten. Kedua kerajaan Islam ini dapat disebut sebagai penerus kerajaan-kerajaan Islam di Jawa Tengah, karena keduanya dilahirkan dari kerajaan-kerajaan Islam tersebut. Kedua kerajaan inilah yang menjadi ujung tombak pengembangan Islam di wilayah Jawa Barat. Bahkan kedua kerajaan ini yang menjadi benteng pertahanan Islam dari serangan Portuigis, Belanda dan Inggris.
Di Kalimantan juga tumbuh dan berkembang kerajaan-kerajaan Islam. Di antara kerajaan-kerajaan itu adalah kerajaan Islam Sukadana yang pada tahun 1590 M masih merupakan daerah Vazal bagi kerajaan Islam Demak. Pada tahun 1725 M kerajaan ini melepaskan diri dan menjadi negara independen di Kalimantan. Selain kerajaan Islam Sukadana, terdapat juga kerajaan Islam Banjarnya dengan rajanya bernama sultan Suryanullah. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan Islam yang berperan aktif di dalam pengembangan dakwah Islam di Kalimantan.
Sedang di Sulawesi berdiri kerajaan Islam Gowa, dan kerajaan Islam Bugis. Sementara di Maluku berdiri kerajaan Islam Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Kerajaan-kerajaan Islam inilah yang memainkan peran aktif di dalam perdagangan dan ekonomi dunia ketika itu, karena di sini merupakan salah satu daerah sumber rempah-rempah. Hanya saja dalam perkembangan selanjutnya banyak wilayah Islam yang jatuh ke tangan Portugis, Belanda dan Inggris. Kejatuhan daerah-daerah kekuasaan Islam ke tangan penjajah, menyebabkan usaha Islamisasi terganggu, karena bangsa-bangsa Barat tersebut juga memiliki misi untuk menyebarkan agama Kristen di Nusantara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar