Senin, 31 Agustus 2009

Sejarah Islam Periode Makkah

Sejarah Islam Periode Makkah

Sebagaiman kamu ketahui bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, merupakan agama terakhir yang menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin). Kenapa begitu? Karena Islam, sebagai agama terakhir, diturunkan bukan hanya untuk masyarakat tertentu, seperti agama Yahudi dan Nasrani untuk Bani Israil, tetapi untuk semua umat manusia. Bahkan bukan hanya untuk kepentingan manusia, juga untuk kepentingan semua makhluk di muka bumi ini. Hal ini dapat dilihat dari surat al-Anbiyâ ayat 107.

Artinya :
“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk
(menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw sekitar 15 abad lalu, bukan tidak mendapat hambatan dan tantangan dari masyarakat Arab yang telah memiliki tradisi adan kepercayaan yang sudah mapan. Mereka menolak karena tidak dapat mem¬bedakan antara kenabian Muhammad dan masalah-masalah sosial politik. Masyarakat Arab sebelum Islam, terutama kaum Qurays, sebagai salah satu kabilah terbesar di Makah, adalah kabilah yang sangat kuat menentang dakwah Nabi Muham¬mad Saw.
Akan tetapi, berkat usaha keras ditambah sifat-sifat yang ada pada diri Nabi Muhammad Saw, seperti penyayang, pemaaf, tanggungjawab, bersikap adil, santun, ke¬luhuran budi, dan seorang pemimpin pemberani, semua tantangan dan hambatan tersebut dapat diatasi dengan baik, sehingga pada masanya, agama Islam tersebar ke seluruh jazirah Arabia, kemudian diteruskan oleh para sahabat dan generasi sesudah sahabat.

Namun sebelum membahas lebih lanjut mengenai hal tersebut, ada baiknya di¬pelajari terlebih dahulu mengenai keadaan bangsa Arab sebelum kerasulan Muhammad Saw. Karena dengan begitu, kamu akan dapat memahami alasan atau argumentasi yang ada di benak kaum musyrik Qurays, mengapa mereka begitu bersemangat menentang ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Untuk lebih jelasnya mengenai perkembangan dakwah Islam pada peiode Makkah, berikut uraiannya.

A.Masyarakat Arab Pra Islam

1.Kepercayaan Masyarakat Makah Pra Islam
Sebelum agama Islam datang, masyarakat Arabia memiliki beberapa agama dan kepercayaan misalnya bangsa Arab Qathan (kaum Saba) yang bermukim di Yaman menganut agama dan kepercayaan Shabaiyah, yaitu suatu kepercayaan yang berkem¬bangdikalangan masyarakat Qathan tentang adanya kekauatan yang terdapat pada bintang-bintang dan matahari. Setelah hancurnya bendungan Maâ’rib masyarakat Qathan terpencar kebeberapa tempat dibagian utara Yaman, sehingga lama-kelamaan kepercayaan yang mereka anut mengalami perubahan ketika mereka mulai berinteraksi dengan masyarakat dan kebudayan lain.

Masyarakat kota Makah sebelum mereka menyembah berhala, batu-batuan dan pepohonan adalah penganut agama Tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim As, yaitu agama yang mengajarkan hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa mereka wajib percaya dan menyembah. Namun karena adanya keterputusan Risalah, akhirnya me¬reka me¬nyembah selain Allah. Proses perpindahan kepercayaan ini berawal ketika salah seorang pembesar suku Khuza’ah bernama Amir Ibn Lubai pergi ke Syam (Syria). Di kota itu ia melihat tata cara peribatan masyarakatnya yang sangat aneh yang berbeda dengan tata cara peribadatan yang biasa mereka lakukan, yaitu menyembah berhala. Ia mulai tertarik untuk mempelajari dan mempraktikan tata cara peribadatan tersebut. Untuk keperluan peribadatan tersebut, Amir Ibn Lubai meminta sebuah berhala dari suku Amaliqah sebagai kenang-kenangan dan akan dijadikan alat alat perantara dalam peribadatan masyarakat Arab Makah guna mendekatkan diri kepada tuhannya. Berhala itu diberi nama Hubal. Berhala ini kemudian diletakan di Ka’bah dan dijadikan sebagai pimpinan berhala-berhala lainnya seperti Latta, Uzza dan Manat.

Selain berhala-berhala tersebut, mereka juga membuat berhala-berhala lain yang diletakan di antara bukit Shafa dan Marwa. Tidak kurang dari 360 berhala yang di¬le¬takan di sekeliling Ka’bah sebagai sesembahan. Dengan demikian, masuk¬lah keper¬ca¬yaan baru ke dalam tradisi keberagamaan masyarakat Makah. Kota Makah kemudian menjadi pusat penyembahan berhala.

Apa yang dilakukan masyarakat kota Makah ini kemudian ditiru oleh ma-sya¬rakat Arab lainnya yang datang ke kota Makah ketika mereka melaksanakan haji. Para peziarah itu bertanya kepada masyarakat kota Makah, khusunya susku Qurays dan Khuza’ah tentang berhala-berhala tersebut. Untuk apa berhala-berhala tersebut dile¬tak¬kan di sekeliling Ka’bah. Penduduk dan pembesar suku Qurays dan suku Khuza’ah mengatakan bahwa berhala-berhala tersebut akan dijadikan perantara dalam peri¬ba¬dat¬an mereka yang akan mendekatkan mereka kepada Tuhan. Setelah mendapat penjelasan tersebut, akhirnya para peziarah itu mengerti dan meniru apa yang dilakukan oleh ma¬syarakat kota Makah. Sejak saat itulah banyak masyarakat Arab yang melakukan pe¬nyembahan terhadap berhala dan mereka menciptakan berhala-berhala untuk disem¬bah.
Ka’bah dan kota Makah dahulu

Sumber: al-asra jisru da’wah dan wikipedia

Di samping adanya kepercayaan dan penyembahan berhala yang dilakukan masyarakat Arab kota Makah pra Islam.terdapat pula kepercayaan lain yang mereka yakini seperti:
a.Meyembah malaikat. Sebagian diantara masyarakat Arab jahiliyah ada yang menyembah dan menuhankan malaikat. Bahkan ada yang berang¬gapan bahwa malaikat adalah puteri tuhan.
b.Menyembah jin, ruh, atau hantu. Sebagian lagi ada yang menyembah jin, hantu dan ruh leluhur mereka. Bahkan ada suatu tempat yang mereka keramatkan yang mereka sebut dengan Darahim. Mereka selalu menga¬da¬kan sesajian berupa kurban binatang sebagai bahan sajian agar mereka terhindar dari mara bahaya dan bencana.
Pada saat menjelang kelahiran agama Islam, muncul sekelompok orang dari kalangan masyarakat Arab yang berusaha melepaskan diri dari penyembahan berhala, dan menyebarkan ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim As. Diantara mereka adalah Waraqah Ibn Naufal, Umayah Ibn Shalt, Qus Saidah, Usman Ibn Khuwairis, Abdullah Ibn Jahsyi dan Zainal Ibn Umar. Mereka inilah yang disebut sebagai kelom¬pok orang yang menentang tradisi kepercayaan dan praktik peribadatan yang banyak dilakukan masyarakat Arab di kota Makah saat itu. Namun, sayang sebelum agama Islam berhasil disiarkan di kota tersebut dan kota-kota lainnya mereka telah tiada.

2. Kondisi sosial masyarakat Makah pra Islam

Kondisi kehidupan Arabia menjelang kelahiran Islam secara umum dikenal dengan sebutan jaman jahiliyah. Hal itu dikarenakan kondisi sosial politik, keaga¬ma¬an dan moralitas (akhlak) masyarakt Arab saat itu sudah sangat tidak baik. Kebia¬saan-kebiasaan buruk seringkali mereka lakukan misalnya meminum arak hingga mabuk, berjudi, berzinah, merampok dan lain sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan itu mereka lakukan karena dalam waktu yang begitu lama, masyarakat Arab tidak memiliki Nabi, kitab suci, ideologi agama dan tokoh besar yang membimbing me¬reka. Selain itu mereka tidak mempunyai sistem pemerintahan yang ideal dan tidak mengindahkan sistem dan nilai-nilai moral. Pada saat itu, tingkat beberagamaan me¬reka tidak berbeda jauh de¬ngan masyarakat primitif.

Dalam hal kepemimpinan politik, masyarakat Arab jahiliyah yang telah ter¬pecah menjadi banyak suku, memiliki seorang pemimpin besar. Masing-masing su¬ku memiliki wewenang untuk menentukan peperangan, pembagian harta ram-pasan dan pertempuran tertentu. Selain itu, seorang Syaikh atau Amir tidak memi¬li¬ki wewenang apapun
dalam mengatur anggota kabilahnya.

Sesungguhnya sejak jaman jahiliyah, masyarakt Arab memiliki berbagai sifat dan karakter yang positif, seperti sifat pemberani, ketahanan fisik yang prima, daya ingat yang kuat, kesadaran akan harga diri dan martabat, cinta kebebasan, setia terhadap suku dan pemimpin, pola kehidupan yang sederhana, ramah tamah, mahir dalam bersyair dan sebagainya. Namun sifat-sifat dan karakter yang baik tersebut seakan tidak ada artinya karena suatu kondisi yang menyelimuti kehidupan mereka, yakni ketidakadilan, kejahatan dan keyakinan terhadap takhayul.

Pada masa itu, kaum wanita menempati kedudukan sangat rendah sepan-jang sejarah umat manusia. Masyarakat Arabia pra Islam memandang wanita ibarat binatang piaraan, bahkan lebih hina lagi. Karena wanita sama sekali tidak men¬da¬patkan penghormatan dalam status sosial dan tidak memiliki kekuatan apapun un¬tuk melakukan pembelaan. Kaum laki-laki dapat saja mengawini wanita sesuka hatinya dan menceraikan mereka semuanya. Bahkan ada suku yang memiliki tradisi yang sangat buruk yang suka mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup. Mereka merasa terhina memiliki anak-anak perempuan. Muka mereka akan merah bila mendengar isteri mereka melahirkan anak perempuan. Perbuatan itu mereka lakukan karena mereka merasa malu dan khawatir anak perempuannya akan membawa kemiskinan dan kesengsaraan.

Selain itu, sistem perbudakan juga meraja lela. Budak dipelakukan ma-jikan¬nya secara tidak manusiawi. Mereka tidak mendapatkan kebebasan untuk hidup la¬yaknya manusia merdeka. Bahkan para majikannya tidak jarang menyiksa dan memperlakukan para budak seperti binatang dan barang dagangan dijual atau di¬bunuh.

B.Pengembangan Misi Islam Periode Makah
1.Langkah awal dakwah Nabi Muhammad Saw.
Nabi Muhammad Saw adalah salah seorang anggota Bani Hasyim, suatu ka¬bi¬lahyang ada di dalam suku Qrays. Ia lahir pada tanggal 12 Robiul Awal tahun gajah ber¬tepatan dengan 20 Agustus 570 M dan dibesarkan keluarga yang baik-baik hingga men¬jelang dewasa. Pendidikan yang diberikan keluarga dan para penga¬suh¬nya membekas di dalam dirinya, sehingga ia menjadi orang yang mendapat julukan al-Amin.

Menjelang usianya yang keempat puluh, beliau sudah terlalu biasa memi-sah¬kan diri dari kehidupan masyarakat, bersemedi atau berhalwat di gua Hira, sebuah tempat yang terletak beberapa kilo meter dari kota Makah. Di tempat itu Muham¬mad Saw ber¬usaha menenagkan jiwanya hinga berlama-lama dengan cara ber¬ta¬fakur. Pada tanggal 17 ramadhan tahun 611 M, malaikat jibril datang kehadapannya untuk me¬nyampaikan wahyu yang pertama. Malaikat Jibril meminta Muhammad Saw untuk membaca wahyu itu.

Artinya:
“ Bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan nama Tuhanmu itu maha mulia. Dia telah mengajar dengan Qalam. Dia relah mengajar manusia yang tidak mereka ketahui”. (QS.al-’Alaq ayat 1-5)
Namun Muhamad Saw tidak mampu melakukannya. Beliau berkata:”Saya tidak bisa membaca”. Perintah itu berkali-kali dilakukan, hingga akhirnya Muham¬mad Saw mampu membaca wahyu pertama itu dengan baik.

Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad Saw telah dipilih Allah untuk menjadi Nabi dan Rasul. Dalam wahyu pertama ini Nabi Muhammad Saw dengan harap-harap cemas menanti kedatangannya di tempat sama. Dalam keadaan bingung itulah kemudian malaikat Jibril datang kembali membawa wahyu kedua yang membawa perintah untuk berdakwah. Wahyu itu adalah surat al-Mudatstsir ayat 1-7.

Artinya:
” Hai orang-orang yang berselimut, bangu dan beri ingatlah. Hendaklah engkau besarkan Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, tinggalkan perbuatan dosa, dan janganlah (memberi maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah”.

Dengan turunnya wahyu kedua itu, mulailah Rasulullah melakukan dak-wah. Langkah pertama yang dilakukan adalah berdakwah secara diam-diam di lingkungan sendiri dan dikalangan rekan-rekanya. Hal itu dilakukan karena selain perintah Allah, secara real, Muhammad Saw belum memiliki pengikut yang dapat membantunya untuk meyebarkan ajaran Islam. Namun, beliau terus berusaha menjelakan ajaran Islam kepada keluarga dan kawan dekatnya. Karena itulah orang yang pertama menerima dawahnya adalah keluarga dan para sahabat dekatnya. Mula-mula isterinya, Siti Khadijah menerima ajakan tersebut. Lalu sepupunya yaitu Ali Ibn Abi Thalib. Kemudian Abu Bakar, sahabat karibnya sejak kanak-kanak. Kemudian Zaid, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya. Ummu Aiman, seorang pengasuh Nabi Muhammad sejak ibunya Siti Aminah masih hidup.

Di antara sahabat dekat Rasul yang berhasil mengajak kawan karibnya untuk menerima dakwah Islam adalah Abu Bakar. Abu Bakar di kenal sebagai seorang pedagang yang amat luas pergaulannya. Melalui beliau banyak orang masuk Islam. Di antaranya adalah Usman Ibn Affan, Zubair Ibn Awwam, Abdurrahman Ibn ‘Auf, Sa’ad Ibn Abi Waqqash, Thalhah Ibn Ubaidillah, Abu Ubaidillah Ibn Jarrah, al-Arqam Ibn Abi al-Arqam, beberapa penduduk Makah lainnya dari kabilah Qurays.Mereka langsung di bawa Abu Bakar ke hadapan Nabi Muhammad Saw dan menyatakan keislamannya. Mereka ini dalam sejarah Islam dikenal dengan sebutan Assabiqunal Awwalun, yakni orang-orang yang pertama memeluk Islam.

Setelah beberapa lama Rasulullah melakukan dakwah secara rahasia turunlah perintah Allah agar beliau melakukan dakwah secara terbuka dihadapan umum. Hal ini dituturkan dalam QS al-Hijr ayat 94.

Artinya:
“Maka jelaskanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”

Langkah pertama yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dalam berdakwah secara terbuka adalah mengundang dan menyeru kerabat dekatnya dari Bani Muthalib. Ia mengatakan kepada mereka “ saya tidak melihat seorang pun dari kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah-tengah mereka lebih baik dari apa yang saya bawa kepada kalian. Saya bawakan kepada mu dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan memerintahkan saya untuk mengajak kalian semua. Siapakah diantara kalian yang mau mendukung saya dalam hal ini?”. Mereka semua menolak, kecuali Ali Ibn Abi Thalib.

Langkah dakwah seterusnya yang dilakukan Nabi Muhammad Saw adalah menyeru masyarakat umum. Mereka mulai menyeru ke segenap lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat bangsawan, hingga kelas hamba sahaya. Mula-mula ia menyeru penduduk Mekah, kemudian penduduk negeri-negeri lain. Peremuan dengan pendu¬duk Mekah dilakukan di bukit Shafa. Dalam pertemuan itu Nabi Muhammad Saw menjelaskan bahwa ia diutus oleh Allah untuk mengajak mereka menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala.
Masayarakt Qurays tidak percaya sama sekali bahkan mendustakan dan menge¬jek Nabi Muhammad Saw. Diantara yang mendustaan itu adalah Abu Lahab dan is¬terinya. Isi pidato itu antara lain adalah:

1.Peringatan dan ancaman Allah bagi orang yang tidak beriman. Sebaliknya, kenikmatan dan surga bagi orang beriman dan beramal shaleh.
2.Bahwa pada hari kiamat nantibeliau tidak dapat memberikan pertolongan kecuali amal perbuatan manusia itu sendiriyang akan menolongnya.
3.Permohonan kepada keluarganya supaya dapat membantu dan memelihara agama Islam.

Mendengar seruan itu, Abu Lahab berkata kasar,“kurang ajar kau hai Muham¬mad! Apakah hanya untuk ini kau kumpulkan kami?” Kemudian Abu Lahab meng¬ambil batu dan melemparkannya ke Nabi Muhammad Saw. Dalam menghadapi peris¬tiwa itu beliau bersikap tenang dan berjiwa besar. Ia hadapi semuanya dengan kesa¬baran tawakal kepada Allah. Dari peristiwa itu turunlah wahyu Allah yang mengutuk Abu Lahab dan isterinya. (Surat al-Lahab ayat 1-5).

Artinya:
1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa[1607]. 2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. 3. Kelak Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. 4. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar[1608]. 5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Dengan seruan secara terbuka itu, Nabi Muhammad dan Islam menjadi per¬hatian dan perbincangan dikalangan masyarakat kota Mekah. Masyarakat Qurays ber¬anggapan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw tidak mempunyai dasar dan tujuan yang jelas. Oleh karena itu, mereka tidak peduli dan berusaha menen¬tangnya habis-habisan hingga agama Islam tersebut lenyap dari muka bumi ini. Bahkan mereka tidak memperdulikan keberadaan agama Islam di tengah-tengah kehidupan dan kepercayaan masyarakat Arab yang telah mengakar dalam tradisi kehidupan ma¬syarakatnya. Selain itu, mereka mulai mengatur strategi untuk mengacaukan kegiatan dakwah Islam dan berusaha menghambat gerak laju perkembangan agama Islam di kota Mekah an masyarakat Arab lainnya.

Meskipun begitu, Rasulullah Saw terus berdakwah tanpa mengenal lelah, Tidak memperdulikan ejekan dan gangguan yang ditujukan kepadanya dan para sahabatnya yang lain. Bahkan beliau terus berusaha berjuang untuk menegakkan risalah Allah itu di tengah-tengah kehidupan masyarakat Arab yang tidak baik itu.

2.Respon Masyarakat Mekah terhadap dakwah Nabi Muhammad Saw

Dakwah Islam yang dilakukan Rasulullah Saw, baik secara diam-diam mau¬pun secara terbuka, mendapat tanggapan (respon) yang beragam, ada yang menerima dan banyak pula yang menolak. Sejumlah kecil mereka yang menerima ajaran Islam adalah para sahabat dan keluarga dekat Rasulullah Saw, meskipun ada juga keluarga dekatnya yang menolak misalnya Bu Lahab. Nabi Muhammad bersama para sahabatnya berusaha secara bersama-sama menyebarkan ajaran di tengah-tengah kehidupan masyarakat kota Mekah.

Salah seorang sahabat dekat beliau adalah Abu Bakar Al-Shiddik. Abu Bakar dikenal
dikalangan masyarakat Qurays sebagai seorang saudagar kaya dan memiliki status sosial tinggi serta mempunyai pengaruh yang cukup besar, hingga disegani oleh kawan maupun lawan.

Melalui pengaruhnya, Abu Bakar telah berhasil menarik simpati kawan-kawan¬nya untuk menerima Islam dan membela perjuangan Nabi Muhammad Saw dalam perjuangannya menyebarkan ajaran Islam. Diantara mereka yang berhasil diajak masuk Islam adalah Usman Ibn Affan, Zubair Ibn Awwam, Sa’ad Ibn Abi Waqqash, Arqam Ibn Abi Arqam, dan lain-lain. Dari mereka itulah kemudian agama Islam tersebar dan menjadi agama yang dicintai masyarakat Arab.

Salah satu upaya untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat kota Me¬kah adalah pengajaran agama yang dilakukan di rumah Arqam Ibn Abi Arqam. Dari ke¬giatan pengajaran agama kepada sekelompok kecil masyarakat Arab kota Mekah inilah nantinya Umar Ibn Khattab masuk Islam.

Meskipun bisa dikatakan bahwa masyarakat Arab di kota Mekah ada yang me¬nerima ajaran Islam secara ikhlas, tapi pada umumnya masyarakt Arab kota Mekah menolak dan tidak menghendaki kehadiran Islam dan umat Islam di kota tersebut. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai penghinaan bahkan ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw dan umat Islam.

Dalam menghadapi tanggapan yang tidak menyenangkan ini, Rasulullah terus saja menyebarkan ajaran Islam meskipun ia bertaruh nyawa. Karena beliau berke¬ya¬kinan bahwa Islam merupakan agama yang paling benar yang mengajak umatnya menuju keselamatan di dunia dan di akherat. Beliau mengajarkan bahwa hanya Allah yang wajib disembah, karena tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.

3.Hambatan dan Rintangan Dakwah Islam di Mekah.

Pada umumnya orang kafir Qurays tidak senang menerima kehadiran agama Islam di tengah-tengah kehidupan mereka. Para tokoh masyarakatnya mulai menye¬bar¬kan isu yang tidak benar mengenai ajaran yang di bawa Nabi Muhammad Saw, sebagai salah satu cara untuk menghambat gerakan Islamisasi sehingga banyak masyarakat yang terpengaruh oleh isu-isu yang menimbulkan fitnah tersebut. Salah seorang tokoh masyarakat Qurays yang selalu menghalangi gerakan dakwah Nabi Muhammad Saw adalah Abu Lahab. Ia mulai menghasut masyarakat Arab Qurays supaya membenci Nabi Muhammad Saw dan Islam. Bahkan Abu Thalib, paman Nabi yang memelihara dan mengasuhnya sejak kecil juga dihasut untuk melarang Nabi Muhammad Saw agar tidak menyebarkan ajaran Islam. Bahkan Abu Thalib seringkali mendapat ancaman dan dipaksa untuk memenuhi keingnan masyarakat Qurays tersebut.

Karena tidak tahan atas terror yang diarahkan kepadanya, maka pada suatu ke¬tika, Abu Thalib membujuk Nabi Muhammad Saw agar bersedia menghentikan kegi¬at¬an dakwahnya. Karena banyak tokoh masyarakat kafir Qurays yang mengancamnya bila tidak berhasilmembujuk Muhammad Saw untuk menghentikan gerakan dakwah¬nya. Namun permohonan pamannya itu tidak dikabulkan, bahkan ia berkata dengan tegas: “ wahai pamanku, demi Allah sekiranya matahari diletakan disebelah kananku, dan disebelah kiriku supaya aku berhenti berdakwah, pasti aku tidak akan mau ber¬henti berdakwah, sampai Allah memberiku kemengangan atau aku binasa dalam per¬juangan”.

Mendengar perkataan dan tekad bulat Nabi Muhammad Saw untuk terus ber¬juang, Abu Thalib tidak bias berbuat banyak kecuali menyerahkan sepenuhnya kepada Nabi Muhammad Saw,. Hanya saja ia berpesan, agar waspada dalam menyebarkan dak¬wah Islam dan berusaha menghindari ancaman masyarakat Qurays.

Pada waktu itu, orang-orang Qurays tidak berani berhadapan langsung dengan Nabi Muhammad Saw untuk memintanya agar meninggalkan kegiatan dakwa, karena mereka masih memandang posisi social pamannya, yaitu Abu Thalib, sebagai salah seorang tokoh masyarakat Qurays. Tetapi mereka berani mengambil tindakan terhadap keluarga sahabat Nabi.

Melihat usaha pendekatan Abu Thalib gagal dan agam Islam terus memperoleh pengikut, Abu Jahal dan Abu Sufyan mendatangi Abu Thalib kembali sambil meng¬ancam. Mereka berkata: “ Hai Abu Thalib, kamu sudah tua, kamu harus mampu men¬jaga dirimu dan jangan membela Muhammad. Kalau hal itu dilakukan terus, maka keluarga kita akan pecah”. Tetapi ancaman itu juga tidak berhasil. Hal itu disebabkan karena tekad kuat Nabi Muhammad Saw sudah bulat untuk terus melaksanakan dak¬wah Islam kepada masyarakat Mekah meskipun ia harus bertaruh nyawa.

Gagal melakukan pendekatan melalui jalur kekeluargaan, akhirnya pimpinan masyarakat Qurays lainnya dating ke Abu Thalib untuk membujuknya agar bias meng¬hentikan kegiatan dakwah kemenakannya itu. Kali ini bukan ancaman yang diberikan, melainkan tawran. Ia menawarkan seorang pemuda tampan bernama Amrah Ibn al-Walid yang usianya sebaya dengan Nabi Muhammad Saw. Lalu mereka berkata: “ Hai Abu Thalib, Muhammad saya tukar dengan pemuda ini. Peliharalah orang ini dan serahkan Muhammad kepada kami untuk kami bunuh”.

Mendengar ancaman dan tekanan itu, Abu Thalib menjawab dengan suara lan¬tang.,“ Hai orang kasar, silahkan dan berbuatlah sesukamu, aku tidak takut”. Kemudian Abu Tahlib mengundang keluarga Bani Hasyim untuk meminta bantuan dan menjaga Muhammad dari ancaman dan penganiayaan kafir Qurays.

Setelah gagal melakukan tekanan kepada Nabi Muhammad Saw, dan Abu Tha¬lib pemimpin Qurays mengutus Uthbah Ibn Rabi’ah untuk membujuk Nabi Muham¬mad Saw agar menghentikan dakwahnya. Untuk itu, ia menawarkan beberapa pilihan kepada Nabi Muhammad. Lalu ia berkata: “ Hai Muhammad, bila kamu menginginkan harta kekayaan, saya sanggup menyediakannya untuk mu. Bila kamu menginginkan pangkat yang tinggi, saya sanggup mengangkatmu menjadi raja, dan bila kamu meng¬inginkan wanita cantik, saya sanggup mencarikannya untuk mu. Tetapi dengan syarat kamu menghentikan kegiatan dakwahmu “.

Mendengar tawaran itu, Nabi Muahmmad Saw menjawab dengan tegas melalui surat Ha Mim Sajadah ayat 1-37. Demi mendengar firman itu, Uthbah tertunduk malu dan hati kecilnya membenarkan ajaran Muhammad Saw. Kemudian ia kembali ke ka¬umnya dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Kemudian ia menganjurkan kepada masyarakat Qurays dan kawan-kawanya untuk menerima ajakan Muhammad Saw daripada memusihinya.

Namun, mereka yang tidak senang dengan ajakan Nabi Muhammad Saw terus berusaha mengganggu dan merintangi dakwah Nabi dengan berbagai cara, termasuk penyiksaan dan pembunuhan. Di antara sahabat Nabi Muhammad yang mendapat siksaan dari kafir Qurays adalah Bilal Ibn Ranah, Yasir, Amr Ibn Yasir, Sumaiyah (isteri Yasir), Khabbab Ibn Aris, Ummu Ubais, Zinnirah, Abu Fukaihah, al-Nadyah, Amr Ibn Furairah dan Hamamah. Mereka menerima siksaan diluar batas perike¬ma¬nu¬siaan. Misalnya dipukul, dicambuk tidak diberi makan dan minum. Bilal di jemur di terik matahari dan diatasnya diberi batu besar. Isteri Yasir yang bernama Sumaiyah di¬tusuk dengan lembing sampai terpanggang. Siksaan itu ternyata tidak hanya dialami oleh hamba sahaya dan orang-orang miskin, tetapi juga dialami oleh Abu Bakar al-Shiddiq, Zubair Ibn Awwam.
Namun sik¬saan yang dialami Abu Bakar tidak berlang¬sung lama karena ia mendapat pertolongan dari sukunya yaitu Bani Taymi.

Hambatan, gangguan dan ancaman terus berlangsung dilakukan masyarakat kafir Qurays terhadap umat Islam hingga akhir umat Islam diperintahkan oleh Nabi Muhammad Saw untuk hijrah ke Habsyi (Ethiopia). Salah satu alas an mengapa negeri itu menjadi temapt hijrah karena negeri itu dipimpin oleh seorang raja Kristen yang taat bernama Nejus. Dlam pandangan umat Islam raja ini selalu berlaku adil dan melindungi mereka yang membutuhkan perlindungan. Oleh karena itu, ketika umat Islam dating, mereka disambut hangat oleh Nejus, bahkan raja itu memberikan perlindungan kepada umat Islam ketika para tokoh Qurays meminta agar raja mengembalikan para peng¬ungsi tersebut.

4.Boikot dan Rencana Pembunuhan terhadap Nabi Muhammad Saw.

Kegagalan masyarakat kafir Qurays dalam membujuk Nabi Muhammad Saw untuk meninggalkan dakwahnya, justeru memperkuat posisi umat Islam di kota Mekah. Menguatnya posisi umat Islam memperkeras reaksi kaum kafir Qurays. Mereka men¬coba menempuh cara-cara baru, yaitu melumpuhkan kekuatan Nabi Muhammad Saw, yang bersandar pada perlindungan keluarga Bani Hasyim. Caranya adalah memboikot mereka dengan memutuskan segala bentuk hubungan dengan Bani Hasyim. Tidak seorang pun dari penduduk Mekah yang diperkenankan melakukan hubungan jual beli dengan Bani Hasyim. Persetujuan itu di buat dalam bentuk piagam dan di tandatangani bersama serta disimpan di dalam Ka’bah.

Dengan pemboikotan ini seluruh umat Islam terkepung dilembah pegunungan dan terputus dari berbagai komunikasi dengan dunia luar. Pemboikotan ini berlang¬sung selama lebih kurang 3 tahun yang dimulai pada bulan Muharram tahun ke-7 ke¬nabian, bertepan dengan tahun 616 M. Diantara isi piagam pemboikotan ini adalah se¬bagai berikut:

1.Mereka tidak akan menikahi orang-orang Islam
2.Mereka tidak akan menerima permintaan nikah dari orang-orang Islam
3.Mereka tidak akan berjual beli apa saja dengan orang-orang Islam
4.Mereka tidak akan berbicara dan tidak akan menengok orang-orang Islam yang sakit
5.Mereka tidak akan menerima permintaan damai dengan orang-orang Islam, sehingga mereka meyerahkan Muhammad untuk di bunuh.

Akibat pemboikotan tersebut, Bani Hasyim menderita kelaparan kemiskinan dan kesengsaraan yang tiada bandingnya saat itu. Pemboikotan itu baru berhenti setelah beberapa pemimpin Qurays menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sungguh suatu tindakan yang sangat keterlaluan. Di antara mereka adalah Zubair Ibn Umayah, Hisyam Ibn Amr, Muth’im Ibn Adi, Abu Bakhtari Ibn Hisyam, dan Zama’ah Ibn al-Aswad. Mereka merasa iba dengan penderitaan yang dialami Bani Hasyim dan umat Islam. Akhirnya mereka merobek isi piagam tersebut dan mengenyahkannya. Dengan perobekan itu, otomatis pemboikotan berakhir.


C.Strategi Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad Saw.

a.Hijrah ke Habsyi yang pertama

Peyiksaan dan penganiyaan kafir Qurays yang di luar batas perike¬manu-sia¬an terhadap orang-orang muslim membuat hati Nabi Muhammad Saw tidak tahan melihat penderitaan itu. Akhirnya Nabi Muhammad Saw menyarankan kepada para sahabatnya untuk mengungsi ke Habsyi guna menghindar dari gangguan, siksaan dan ancaman orang-orang kafir Qurays. Anjuran tersebut ditanggapi secra positif oleh para sahabat Nabi. Oleh karena itu pada bulan ke tujuh tahun kelima kenabian berangkatlah 11 (se¬belas) orang laki-laki beserta 4 (empat) wanita. Kemudian rombongan berikutnya me¬nyusul hingga jumlah yang hijrah ke Habsyimencapai 70 (tujuh puluh) orang. Di antaranya adalah Usman Ibn Affan,dan isterinya, Ruqayah puteri Nabi Muhammad Saw, Zubair Ibn Awwam, Abdurrahman Ibn Auf, Ja’far Ibn Abi Thalib, dan lain-lain. Kedatangan orang-orang Islam di Habsyi disambut deng¬an baik oleh raja Nejus. Bahkan ia memberikan pelindungan dan diijinkan untuk melaksanakan ibadah Islam.
Keadaan itu berubah ketika orang-orang Qurays mengirim utusan kepada raja Nejus. Mereka meinta agar raja Habsyi itu mengembalikan orang-orang muk-min ke negeri aslnya, yaitu Mekah. Namun permintaan itu ditolaknya. Bahkan umat Islam mendapatkan perlindungan khusus dan tempat yang layak di negeri itu serta diizinkan untuk tinggal selamanya.

Sementara ketika umat Islam berada di Habsyi, Rasulullah tetap tinggal di kota Mekah. Beliau terus berusaha menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Qurays, meskipun mendapat ancaman dan gangguan yang luar biasa. Usaha Rasulullah Saw ini ternyata tidak sia-sia. Ia berhasil mempengaruhi bebrapa tokoh Qurays, misalnya Hamzah Ibn Abdul Muthalib yang masuk Islam pada tahun 615 M yang bertepatan pada tahun keenam kenabian.

Islamnya Hamzah Ibn Abdul Muthalib berawal dari suatu peristiwa peng-a¬niayaan yang dilakukan Abu Jahal terhadap Nabi Muhammad Saw. Abu Jahal mem¬perolok-olok dan akan membunuhnya saat itu. Ketika peristiwa itu di dengar Hamzah, ia marah dan terus mendatangi Abu Jahal. Ketika bertemu Abu Jahal, ia langsung memukulnya dan menghardik. Dia berkata apakah kamu akan mem-bunuh orang yang mengatakan bahwa Allah adalah Tuhannya? Setelah kejadian itu, Hamzah merasa kasihan dan berusaha melindungi perjuangan Nabi Muham¬mad. Sejak itulah ia menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah Saw.

Sementara Islamnya Umar bin al-Khattab berawal ketika ia bermaksud mem¬bunuh Nabi Muhammad Saw yang sedang berada di rumah Arqam bin Abi Ar¬qam. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdillah dan mena-nya¬kan ke mana tujuan Umar. Umar menjawab ia akan membunuh Nabi Muhammad Saw yang di¬anggap telah memecah belah masyarakat Arab. Nu’man berkata lagi, bagaimana anda bisa membunuh Muhammad sementara adik ipar Anda telah menjadi pengi¬kutnya yang setia. Mendengar keterangan itu Umar bin al-Khattab marah besar dan langsung menemui adiknya, yaitu Fatimah dan Said bin Zaid suami Fatimah yang se¬dang belajar al-Qur’an. Setibanya di tempat tujuan Umar langsung memukul Sa’id hingga berdarah. Umar bertanya, apa yang kamu baca? Sya membaca al_Qur’an. Berikan kepada saya! Pintanya. Tidak ! kata Fatimah nanti kau hinakan dia. Tidak! Aku berjanji.” Mendengar jawaban dan ketulusan Umar, akhirnya Fatimah memberikan ayat yang sedang dibaca. Setelah membaca ayat tersebut, Umar terketuk hatinya dan langsung mendatangi Nabi Muhammad Saw untuk menyatakan keislamannya.

Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin al-Khattab adalah berkat usaha Nabi Muhammad Saw yang tidak kenal lelah dan tidak takut karena ancaman dalam berdakwah. Selain itu, keislaman mereka berdua memperkuat posisi umat Islam yang mendapat ancaman dari orang-orang kafir Qurays yang saat itu sedang berada di Habsyi.

b.Hijrah ke Habsyi kedua

Umat Islam yang hijrah ke Habsyi pertama berlangsung selama dua bulan. Setelah itu mereka kembali lagi ke Mekah. Melihat keberhasilan umat Islam bertahan mendapat perlindungan di Habsyi serta semakin banyak jumlahnya di kota Mekah, kafir Qurays semakin geram. Mereka semakin memperkuat penganiayaan terhadap orang-orang Islam. Karena itulah Nabi Muhammad Saw menyarankan kembali kepada umat Islam untuk hijrah kembali ke Habsyi. Hijrah kedua ini diikuti oleh 101 orang diantaranya terdapat 18 orang wanita yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib.

Kepergian umat Islam yang kedua ini ke Habsyi masih mendapat sambutan yang hangat dari raja Nejus. Mereka di beri kebebasan untuk menjalankan ibadahnya dan boleh bebas memilih ingin tetap tinggal di Habsyi selamanya tau tidak. Rupanya kebaikan hati raja Nejus ini membuat marah orang-orang kafir Qurays. Mereka tidak tahan dan terus berusaha untuk menghambat langkah perkembangan Islam dengan berbagai cara. Untuk itu orang-prang kafir Qurays mengirim ’Amr bin al-’Ash dan Abdullah bin Rabiah menghadap raja Nejus dengan harapan permintaan mereka kali ini untuk mengirimkan kembali para muhajirin mendapat sambutan positif dari raja Nejus.

Melihat keseriusan orang-orang kafir Qurays ini, raja nejus berusaha mengum¬pulkan umat Islam untuk diminta penjelasan yang sebenarnya. Dalam kesempatan ini Ja’far bin Abi Thalib bertindak senagai wakil dan juru bicara umat Islam untuk menje¬laskan hal yang sebenarnya mengenai ajaran Islam kepada raja Nejus. Setelah dijelaskan panjang lebar mengenai Islam dan ajarannya yang di bawa Nabi Muhammad Saw yang tidak bertentangan dengan agama yang dianut raja, akhirnya raja mengerti dan memin¬ta utusan tersebut kembali ke Mekah. Setelah itu, raja Nejus pun masuk Islam.

Melihat kegagalan yang kedua kali ini, orang-orang kafir Qurays semakin gencar menyebarkan isu kebohongan mengenai ajaran yang di bawa Nabi Muhammad Saw dan berusaha mempersempit gerak langkah perjuangan Islam.

3.Msi ke Thaif

Pada tahun kesepuluh kenabian dikenal dengan tahun duka bagi Nabi Muham¬mad Saw. Sebab kedua orang yang sangat dicintainya telah meninggal dunia, yaitu Siti Khadijah dan Abu Thalib. Kedua orang ini adalah pembela dan pelindung yang sangat tabah, kuat dan disegani masyarakat Mekah. Dengan meninggalnya Siti Khadijah dan Abu Thalib, orang-orang kafir Qurays semakin berani mengganggu dan menyakiti Nabi Muhammad Saw. Karena penderitaan yang dialami Nabi Muhammad Saw semakin hebat, ia bersama Zayd berencana pergi ke Thaif guna meminta bantuan serta perlindungan dari keluarganya yang berada di kota itu, yaitu Kinanah yang bergelar Abu Jalail dan Mas’ud yang bergelar Abu Kuhal serta Habib. Mereka adalah para pembesar dan penguasa di Thaif yang berasal dari keturunan Tsaqif. Ketiganya adalah Amir bin Umair bin Auf al-Tsaqafi.

Karena mereka adalah para pembesar dan orang-orang terhormat di kota itu. Nabi Muhammad Saw berharap dakwahnya diterima mereka dan masyarakt Thaif. Hal itu dilakukan Nabi Muhammad Saw karena beliau beranggapan akan mendapat pertolongan, perlindungan dan bantuandari kerabatnya itu. Akan tetapi harapan terse¬but tidak menjadi kenyataan, karena mereka tidak mau memberikan perlindungan dan bantuan apapun kepada Muhammad Saw. Bahkan Ia diusir dan dihina dengan cara-cara yang tidak manusiawi. Ia di usir dan dilempari batu oleh para pemuda kota Thaif. Mereka tidak mau mengambil risiko dari bantuan yang akan diberikan. Karena mereka akan mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari masyarakat Mekah bila memberikan bantuan atau bahkan menerima Islam sebagai agama baru mereka. Para pembesar kota Thaif enggan menolong Muhammad, karena mereka beranggapan Muhammad adalah orang gila yang terusir dari Mekah. Selain itu berdasarkan informasi yang mereka terima dari Abu Jahal, bahwa apa yang diajarkan Muhammad adalah kebohongan besar yang akan menyesatkan bangsa Arab.

Perlakuan masyarakat Thaif ini membuat luka hati dan badan. Ia terluka hatinya karena gagal mendapat perlindungan dan bantuan dari sanak saudaranya di Thaif. Terluka badannya karena masyarakat kota Thaif melemparinya dengan batu hingga badannya terluka. Akhirnya beliau kembali ke kota Mekah. Sebelum sampai di kota kelahirannya, ia singgah di suatu tempat dipinggiran kota di sisi perkebunan anggur kepunyaan Uthbah dan Syaibah anak Rabiah. Di tempat itu beliau duduk sambil merenungi peristiwa yang baru saja dialaminya dikota Thaif. Sambil menengadahkan mukanya kelangit beliau berdoa mengadukan nas binya kepada Allah. Beliau berkata, ” Ya Allah, hanya Engkau lah tempat aku mengadukan kelemahanku. Ya, Allah, Engkau maha penyayang, maha pelindug orang-orang lemah, aku berlindung kepada-Mu ya Allah”.

Penderitaan yang dialami Nabi Muhammad Saw dan apa yang sedang dilaku¬kannya di dekat perkebunan anggur tidak lepas dari perhatian keluarga Rabiah. Betapa sedihnya Uthbah dan Syaibah melihat penderitaan Nabi. Untuk itu, mereka mengutus budaknyabernama adas yang beragama Nasrani datang menemui Nabi Saw dan memberinya anggur. Nabi Muhammad Saw tertegun ketika Adas datang membawa anggur yang akan diberikan kepadanya. Anggur itu lalu diambil Nabi Muhammad Saw dan dimakannya. Sambil meletakan tangan diatas buah anggur, Nabi Saw mengu¬cap¬kan lafal Bismillah, kemudian anggur itu dimakannya.

Mendengar ucapan itu, Adas merasa heran karena kalimat itu belum pernah diucapkan oleh penduduk Thaif. Adas tidak berani bertanya lebih jauh. Akhirnya Nabi Muhammad Saw mulai bertanya asal-usul dan agamanya. Adas menjawab, saya berasal dari negeri Niniveh. Agama saya Nasrani. Lalu Nabi bertanya lagi. Kamu berasal dari negeri Yunus anak Matta? Dari mana kenal Yunus anak Matta? Tanya Adas. Dia saudara k, dia seorang Nabi, dan aku juga seorang Nabi. Jawab Nabi Muhammad Saw. Dalam riwayat lain, setelah kejadian itu Adas masuk Islam.

Misi Nabi ke kota Thaif untuk meminta bantuan dari sanak saudaranya tidak mendapat tanggapan yang berarti, karena mereka menolak dan bahkan penduduknya memperlakukan Nabi dengan cara kasar., yaitu melempari batu dan menghi¬na¬nya di muka umum hingga beliau terluka. Dari sini dapat kita katakan nahwa misi tersebut gagal. Meskipun begitu, ternyata masih ada orang yang peduli dengan misi perjuangan Nabi Muhammad Saw yaitu keluarga Rabiah.
Daerah Thaif

2. Perjajnjian Aqabah

a. Kunjungan jama’ah Yastrib ke Mekah
Ancaman, gangguan dan siksaan yang dialami dan umatIslam di kota Mekah dari orang-orang kafir Qurays, semakin menjadi. Mereka terus berusaha mencari kele¬mahan dan keterangan yang ada pada umat Islam untuk dijadikan bahan ejekan, hinaan dan siksaan. Melihat kenyataan seperti itu, Nabi Muhammad Saw memandang bahwa Mekah tidak dapat di andalkan lagi sebagai basis perjuangan dakwah Islam. Oleh ka¬rena itu, Nabi pernah berusaha mencari tempat lain, seperti ke Thaif. Dikota ini ia ber¬harap mendapatkan perlindungan dan bantua dari sanak saudranya. Tapi ternyata ha¬rapan itu sia-sia belaka, bahkan Nabi Muhammad Saw mendapat penghinaan dan lem¬paran batu hingga dirinya terluka.

Cobaan berat yang dialami Nabi Muhammad Saw selama mengungsi di Thaif te¬rasa menyuramkan semangat perjuangannya. Pada saat yang demikian, tiba-tiba ter¬bersit seberkas harapan dalam pikiran Nabi bersamaan dengan datangnya musim haji. Ketika upacara haji hampir selesai, Nabi Muhammad Saw menaruh perhatian terhadap suatu kerumunan yang tediri dari 6 orang pemuda yang tampak seperti orang-orang asing. Mereka adalah para pemuda yang datang dari Yastrib. Lalu Nabi Muhammad menemui mereka dan menyampaikan ajaran Islam yang diterimanya dari Allah SWT. Beliau juga menganjurkan kepada mereka agar mengikuti seruan Tuhan. Selain itu, beliau juga menyampaikan penderitaan dan siksaan yang dilakukan kafir Qurays kepadanya dan kepada umat Islam. Ajaran Islam dan keluh kesah yang disampaikan Nabi kepada mereka mendapat simpati, sehingga mereka mau menerima ajaran itu.

Dalam kesempatan itu pula, Nabi Muhammad Saw bertanya kepada mereka. Apakah mereka bersedia menerima dan melindungi Nabi seandainya Nabi pindah ke Yastrib. Keenam pemuda yang telah menyatakan keislamannya, belum berani mem¬berikan jaminan keselamatan kepada dri Nabi dan umat Isam lainnya, bila mereka pindah ke Yastrib. Sebab mereka sendiri sedang terlibat permusuhana di negerinya. Setibanya di yastrib keenam pemuda itu menyebarkan berita tentang datangnya se¬orang rasul di tengah-tengah masyarakat Arab untuk menunjukan mereka jalan yang lurus dan menyelamatkan mereka dari jalan kehidupan yang sesat. Sebagian pengikut Yahudi yag menanti-nanti datangnya rasul terakhir, sebagaimana yang dinyatakan da¬lam kitab suci mereka, dengan gembira menyampaikan berita tersebut.

Sejumlah orang Yastrib datang ke Mekah setiap datangnya musim haji. Sebagian mereka yang telah menerima seruan Nabi Muhammad Saw menyatakan keimanannya kepada ajaran Islam yang disampaikan rasulullah Saw. Peristiwa ini merupakan titik terang dalam perjalanan Risalah Nabi Muhammad Saw. Karena penerimaan masyarakat Yastrib terhadap misi yang disampaikannya akan membuka lembaran barudalam usaha beliau menyampaikan ajaran Islam.

c.Perjanjian aqabah I

Pada tahun ke-12 kenabian, bertepatan dengan tahun 621 M, Nabi Muhammad Saw menemui rombongan haji dari Yastrib. Rombongan haji tersebut berjumlah sekitar 12 orang. Kepada mereka Nabi Muhammad saw menyampaikan dakwahnya. Seruan itu mendapat sambutan hangat sehingga mereka menyatakan keislamannya di hadapan Nabi Muhammad Saw. Pertemuan tersebut terjadi di salah satu bukit di kota Mekah, yaitu bukit Aqabah.

Disinilah mereka mengadakan persetujuan untuk membantu Nabi Muhammad Saw dalam menyebarkan Islam. Oleh karena pertemuan tersebut dilakukan di bukit Aqabah, maka kesepakatan yang mereka buat disebut Perjanjian Aqabah. Isi perjanjian Aqabah itu antara lain sebagai berikut:
1.Mereka menyatakan setia kepada Nabi Muhammad Saw.
2.Mereka menyatakan rela berkurban harta dan jiwa.
3.Mereka bersedia ikut menyebarkan ajaran Islam yang dianutnya
4.Mereka menyatalan tidak akan menyekutukan Allah
5.Mereka menyatakan tidak akan membunuh.
6.Mereka menyatakan tidak akan melakukan kecurangan dan kedustaan

Ketika rombongan akan kembali ke Yastrib, Nabi Muhammad Saw mengutus salah seorang sahabatnya bernama Mush’ab bin Umair untuk membantu penduduk Yastrib yang telah menyatakan keislamannya dalam menyebarkan ajaran Islam di kota tersebut. Setibanya di Yastrib mereka giat mendakwahkan ajaran Islam kepada masya¬rakat, sehingga dalam waktu singkat agama Isalam berkembang dan pengikutnya sema¬kin bertambah.

d.Perjanjian Aqabah II

Pada tahun ke-13 kenabian bertepatan dengan tahun 622 M, jamaah Yastrib datang kembali ke kota Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Jamaah itu berjumlah sekitar 73 orang. Setibanya di kota Mekah mereka menemui Nabi Muhammad Saw, dan atas nama penduduk Yastrib mereka menyampaikan pesan untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. Pesan itu adalah berupa permintaan masyarakat Yastrib agar Nabi Muhammad bersedia datang ke kota mereka, memberikan penerangan tentang ajaran Islam dan sebagainya. Permohonan itu dikabulkan nabi Muhammad Saw dan be¬liau meyatakan kesediaanya untuk datang dan berdakwah di sana. Untuk memper¬kuat kesepakatan itu, mereka mengadakan perjanjian kembali di bukit Aqabah. Kare-nanya, perjanjian ini di dalam sejarah Islam di kenal dengan sebutan Perjanjian Aqabah II.

Diantara isi perjanjian Aqabah II ini adalah sebagai berikut:
1. Penduduk Yastrib siap dan bersedia melindungi Nabi Muhammad Saw.
2.Penduduk yastrib ikut berjuang dalam membela Islam dengan harta dan jiwa.
3.Penduduk Yastrib ikut berusaha memajukan agama Islam dan menyiarkan kepa¬da sanak keluarga mereka.
4.Penduduk Yastrib siap menerima segala resiko dan tantangan.

Dengan keputusan ini terbukalah dihadapan Nabi Saw harapan baru untuk memperoleh kemenangan, karena telah mendapat jaminan bantuan dan perlin¬dungan dari masyarakat Yastrib. Sebab itu pula, kemudian nabi Saw meme-rintah¬kan kepada sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Yastrib, karena di kota Mekah mere¬ka tidak dapat hidup tenang dan bebas dari gangguan, ancaman dan penyiksaan dari orang-orang kafir Qurays.
Selain itu, ada beberapa faktor yang mendorong Nabi memilih Yastrib se-bagai tempat hijrah umat Islam.

Pertama Yastrib adalah tempat yang paling dekat.
Kedua, sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau telah mempunyai hubungan baik dengan
penduduk kota tersebut. Hubungan itu berupa ikatan per¬sau¬daraan karena kakek Nabi, Abdul Mutahalib beristerikan orang Yastrib. Di samping itu, ayahnya dimakamkan di sana.
Ketiga, penduduk Yastrib sudah dikenal Nabi karena kelembutan budi pekerti dan sifat-sifatnya yang baik.
Keempat, bagi diri Nabi sendiri, hijrah merupakan keharusan selain karena pe¬rintah Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar