Kamis, 10 Maret 2011

Masyarakat dan Budaya Betawi: Potret Kecil dalam Bingkai Besar

Masyarakat dan Budaya Betawi:
”Potret Kecil” dalam Bingkai Besar.

Oleh : Murodi

Saya mengucapkan terima kasih kepada Bang Haji Ridwan Saidi, yang telah mem¬be-rikan kepercayaan kepada saya untuk “ belajar” banyak mengenai masyarakat Betawi. Karena saya tahu persis, Bang Ridwan, selain sebagai aktivis, juga kolumnis yang sangat produktif berkarya. Secara langsung atau tidak langsung, beliau adalah guru yang banyak memberikan inspirasi dalam mengamati dan memahami mengenai masyarakat di mana saya lahir dan dibesarkan. Karyanya yang begitu banyak, mengilahmi banyak orang, termasuk saya, untuk memahami, bukan hanya sekadar melaihat masyarakat Betawi dan kebudayaannya. Karya-karya tersebut merupakan sebuah karya akademis yang menjawab berbagai pertanyaan yang sering muncul ke permukaan mengenai masyarakat Betawi dan kebudayaan yang dihasilkannya. Sehingga, mau tidak mau, orang yang selama ini melihat masyarakat Betawi dengan sebelah mata, mulai berpikir serius, bahwa masyarakat Betawi, sebagai penduduk asli Jakarta, merupakan sebuah masyarakat yang sudah ada dan banyak memberikan kontribusi bagi perjuangan dan pembangunan negeri ini.
Pendapat miring dan streotype itu sering mucnul ke permukaan karena pendapat yang keliru yang pernah dilontarkan oleh Lance Casle, sejawaran Australia. Ia menga¬takan bahwa Masyarakat Betawi, ada¬lah konumitas etnis yang baru lahir pada tahun 19830-an. Pendapatnya ini didasari atas hasil sensus kependudukan yang dilakukan yang dilakukan pemerintah Belanda di Batavia pada tahun 1815-1853. Hasil sensus tersebut belum mencatat adanya sebuah komunitas etnis Betawi yang mendiami Batavia waktu itu. Dia menyimpulkan, etnis bernama Betawi adalah campuran Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Me¬layu. Lebih jauh bahkan ia menyebutkan bahwa komunitas etnis itu terbentuk dari ber-bagai etnis yang didatangkan oleh pemerintah Belanda dari beberapa wilayah Nusan¬tara sebagai budak atau pekerja kasar di per¬kebunan dan proyek-proyek pemerintah Belanda.
Pendapat ini ditentang banyak orang, misalnya, Ridwan Saidi. Dalam konteks ini Ridwan saidi mengatakan bahwa pendapat itu salah. Sebab Lance Casle tidak tahu benar tentang komunitas asli penduduk Batavia. Ia bahkan mempertanyakan, apakah Batavia yang dulunya Bandar Sunda atau kemudian berkembang menjadi Sunda Kalapa yang berada di bagian Barat Utara pulau Jawa benar-benar kosong tak ber¬peng¬huni ? Ridwan Saidi, berdasarkan referensi yang dibacanya mengatakan, jauh sebelum Lance Casle melalukan penelitian, sudah terdapat penduduk asli di Batavia. Mereka adalah penduduk asli yang menempati di beberapa daerah, seperti Rawa Belong, Tanah Abang, Menteng, bahkan di daerah Condet, dan lain-lain.
Meskipun begitu, Bang Ridwan mengakui bahwa dalam proses pembentukan komunitas etnis Betawi lebih lanjut, ada semacam proses asimilasi dan akulturasi dari berbagai suku bangsa lain, seperti Sunda, Jawa, Melayu,Bugis, Ambon, Bali, Sum¬bawa, bahkan pendatang dari negeri lain, seperti Arab, Cina, dan Eropa. Kenyataan ini dapat dilihat dari unsur kesenian, kebudayaan, bahasa, pakaian, dan lain-lain, dan proses asmilisai itu tentu saja dengan orang Betawi, menurut Yahya Andi Saputra, salah seorang pengurus LKB (Lembaga Kebudayaan Betawi). Selain itu, Lan Casle hanya berpedemoan pada data statistik mentah, tanpa melakukan chek and recheck terhadap data lain yang ada. Karena itu, sekali lagi, Bang Haji Ridwan Saidi, menolak keras pendapat tersebut, bahkan menganggapnya sebagai sebuah pendapat yang keliru dan menyesatkan.
Memang tidaklah mudah menentukan batas-batas komunitas masyarakat Beta¬wi, terutama setelah sensus pasca kemerdekaan. Sebab sensus pada waktu itu tidak mengenal penggolongan berdasarkan kelompok etnis. Keculai sensus yang dilakukan pada masa Orde Baru dan Reformasi. Di sana terdapat kolom etnisitas, termasuk kolom etnis Betawi. Paling tidak, ada dua batas yang dapat digunakan untuk mengenal masyarakat Betawi, yaitu batas geografis dan batas kultural. Batas geografis, Betawi dulu adalah mereka yang mendiami wilayah yang disebut Batavia en ommenlanden, yaitu batas wiayah kekuasaan Belanda pada abad ke-16 M dan mengalami perkembangan hingga wilayah Jawa Barat ( banten dan Cirebon). Hanya, perluasan wilayah ke luar batas Batavia disebut penjajah Belanda dengan sebutan Jacatra pada abad ke-17 M.
Sementara batas Kultural, khususnya bahasa Melayu Beatwi atau Omong Jakarta, dapat pula dipergunakan untuk mengenal masyakarat Betawi. Bahasa Melayu Betawi ini dipergunakan oleh pemerintah penjajah Belanda sebagai media Kristenisasi dan tujuan politik. Kebijakan itu dikeluarkan oleh Meester Cornelis Senen, seorang pemeluk Kristen kaya asal pulau Banda. Ia pernah mengajarkan orang Belanda dengan menggunakan bahasa Melayu. Bahkan Dewan gereja Hindia Belanda memutuskan pada tanggal 26 Agustus 1621, bahasa tersebut diijinkan untuk dipergunakan dalam khutbah keagamaan. Selain itu, banyak penduduk Kristen yang tidak paham bahasa Belanda, sehingga penyebaran ajaran Kristen tidak banyak dipahami. Karena itu, pemerintah Hindia Belanda mengijinkan penggunaan bahasa Melayu Betawi sebagai bahasa komunikasi, baik dalam keagamaan maupun untuk tujuan politik.
Memasuki abad ke-19 M, bahasa Portugis- kehilangan pengaruh. Banyak kata-katanya yang terserap ke dalam bahasa baru yang mulai popular, yang kemudian disebut dengan Omong Jakarta atau Melayu Betawi. Dengan mencermati bahasa ini, maka mudah bagi kita untuk memahami identitas masyarakat Betawi. Menyebarnya bahasa Melayu Betawi atau Omong Jakarta, tampaknya berkaitan erat dengan proses Islamisasi di Betawi. Dengan demikian, seperti yang dikatakan Bang H. Ridwan Saidi, karena menggunakan bahasa Melayu, maka Islam sebagai pandangan hidup dan kebudayaan Melayu juga diadopsi. Selain itu, tampaknya Islam membuka jalan bagi perkembangan kebudayaan Melayu di kalangan masyarakat Betawi. Semangat egalitarian dan kese¬derajatan sosial yang dibawakan jaran Islam, sejalan dengan bahasa Melayu sebagai alat pergaulan dalam kesetaraan sosial, sehingga dengan memeluk Islam, bahasa Me¬layu menjadi fungsional. Dalam perkembangan selanjutnya, bahasa Melayu Betawi atau Omong Jakarta, menjadi bahasa komunikasi sehari-hari masyarakat Betawi dan masyarakat yang tinggal di wilayah Betawi.
Karena itu, ketika proses pembentukan komunitas etrnis ini mengalami kema-panan, maka pilihan akhir ideologi agama mereka adalah Islam. Islam tidak hanya dija¬dikan sebagai sebuah simbol ritual keagamaan, juga telah menjadi sebuah identitas diri dan budaya masyarakat Betawi hingga kini. Dalam teori Millner, yang menjelaskan tentang Islam dan Identitas Kemelayuan, mengatakan ketika orang non Melayu, seperti Cina dan peranakan Eropa masuk Islam, ia menyebutnya beeing a Malay, menjadi Melayu yang identik degang muslim. Untuk memetakan identitas komunitas etnis Betawi, kita dapat meminjam teori ini. Teori ini kemungkinan juga berlaku dalam proses pembentukan komunitas etnis Betawi di Batavia dan sekitaranya di masa lalu. Banyak pendatang de¬ngan latar belakang bahasa agama dan budaya, ketika tiba dan menetap secara perma¬nen di Batavia dan melahirkan generasi baru di wilayah baru mereka, banyak yang ma¬suk Islam dan menjadi Betawi. Dalam konteks ini, Abdul Aziz, mengatakan bahwa Is¬lam memainkan peranan yang cukup penting di dalam proses pembentukan identitas dan kebudayaan komunitas etnis Betawi. Islam dijadikan sebagai simbol pemersatu un¬tuk merekat elemen masyarakat Betawi. Selain itu, tradisi dan kebudayaan yang di¬kem-bangkan komunitas etnis Betawi selalu didasari atas nilai-nilai keislaman. Sehingga ba¬nyak orang menilai, masyarakat Betawi adalah masyarakat yang religius.
Selain Islam sebagai sebuah ideologi, agama dan identitas, adalah sikap ega¬li-tarisme. Sikap ini menunjukkan bahwa masyarakat Betawi, dulu, kini dan mendatang adalah masyaraat yang sangat terbuka dan egaliter. Kenyataan ini didasari atas sebuah realitas kehidupan bahwa di dalam kehidupan masyarakat tidak ada sistem kelas, seperti teori Marx. Semua orang di mata masyarakat Betawi memiliki kedudukan yang sama. Ibarat pepatah, berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Tidak ditemukan penga¬ruh feodalisme di dalam tataran kehidupan sehari-hari, karena di Betawi tidak pernah ada kerajaan yang berkuasa. Kedudukan dan ketinggian derajat seseorang sa¬ng¬at di¬ten¬tukan oleh ketinggian ilmunya, khususnya ilmu-ilmu keagamaan. Kare¬nanya, ulama se¬lalu menempati posisi tertinggi di mata masyarakat Betawi, bukan tuan tanah atau penguasa.
Potert Budaya Manusia Betawi:
Mempertagas Posisi Budaya dan Masyarakat Betawi.
Dua buah buku yang dikarang oleh Bang Haji Ridwan Saidi, mempertagas eksistensi masyarakat dan budaya Betawi. Sebab selama ini, menurut pengamatan saya, ada se¬bagian masya¬rakat Betawi yang sudah merasa mapan dengan po¬sisi dan identitas yang dimilikinya, tampaknya sudah kehilangan identitas kebeta¬wi¬annya, bahkan tercerabut dari identitasnya sebagai masyarakat Betawi, khususnya di lingkungan politik, peme¬rintahan, juga di kalangan akademisi. Kenyataan ini sesung¬guhnya patut disayangkan. Sebab kini, masyarakat Betawi mestinya merasa bangga de¬ngan identitas bahasa dan budaya yang dimiliki, karena bahasa Betawi yang sederhana, akrab, egaliter, dan tidak terkesan feodalistis, berpengaruh di seluruh antero Indonesia. Bahasa Batawi yang se¬ring dipergunakan dalam sinetron, dan tayangan lainnya di me¬dia elektronik, dijadikan sebagai bahasa gaul sehari-hari masyarakat Indonesia, khu¬susnya anak-anak muda. Mereka sangat terbiasa dengan gaya bahasa dan logat Betawi. Sebagai ilustrasi, misal¬nya, ketika saya melakukan riset di pelosok Jawa Tengah, Jawa Timur hingg Madura, tampak kelihatan gaya bahasa yang dipergunakan anak-anak muda, baik di sekolah maupun perguruan tinggi dan di pergaulan sehari-hari di kota-kota besarnya. Istilah gile lu, lu jadian ama dia,gua aja nggak berani deketin eh lu mala jadian merupakan ungkapan bia¬sa. Justeru kini, masyarakat dan budayawan Jawa dan lainnya merasa terancam posi¬sinya, karena banyak generasi muda yang sudah kehilangan ident¬itas kedaerahannya. Upaya yang dilakukan pemda dan lembaga-lembaga pendidikan untuk memasukan muatan lokal berupa bahasa dan budaya lokal ke dalam kurikulum pelajaran, tetap saja kurang efektif. Karena di luar, mereka tetap memergunakan bahasa gaul, yaitu bahasa Betawi modern.
Akan tetapi, dalam pengamatan sepintas yang saya lakukan di beberapa tempat ter-ten¬tu, baik dilingkungan kampus atau di perkantoran, ada orang Betawi yang tidak mau disebut dirinya sebagai orang Betawi, karena malu. Menurutnya, orang Betawi itu ke¬tinggalan jaman., kolot, norak, dan sebagainya. Selain itu, kalau dilihat dari sisi psiko¬lo¬gis, stigma yang diarahkan kepada komunitas etnis Betawi sebagai akibat dari teori Lance Casle yang sangat stereotype, bahwa masyarakat Betawi berasal dari komunitas para budak, membuat sebagian masyarakat Betawi yang terdidik sekalipun enggan bahkan malu menyebut dirinya sebagai orang Betawi. Perasaan ini ditambah dengan stigma lain, bahwa orang Betawi adalah komuitas etnis pinggiran yang selalu tergusur digusur dan terbelakang. Tidak berpendidikan, hanya berpofesi sebagai tukang ojek, anggota RCTI ( rombongan calo tanah indonesia), dan sebagainya. Penayangan sinetron yang bernuansa Betawi selalu menampilkan wajah garang, tukang ngomel, cerewet, culas, tukang marah, dan sebagainya, memperburuk citra. Faktor-faktor inilah yang menyebebkan ada sebagian masyarakat Betawi yang enggan mengakui dirinya sebagai orang Betawi.
Dengan demikian, kini, asumsi banyak orang mengenai potret budaya dan masyarakat Betawi, tidak ubahnya seperti lenong, mesti dikikis habis. Sebab, kini, banyak masya¬rakat Betawi yang sadar akan kebetawiannya berusaha semaksimal mungkin menje¬laskan kepada publik, bahwa masyarakat dan budaya Betawi akan tetap eksis sampai kepanpun. Bukan hanya karena bahasanya yang ngepop, populis, juga karena egalita¬rianisme yang dianut masyarakat Betawi.
Sekali lagi, karya Bang Haji Ridwan Saidi ini, menyuguhkan sesuatu yang sangat me¬narik untuk dibaca dan dikaji secara sekasama. Dalam buku tersebut ditemukan latar belakang sejarah masyarakat dan budaya Betawi, termasuk proses migrasi penduduk serta proses akulturasi kebudayaannya, sehingga buku ini memberikan inspirasi dan pencerahan bagi perkembangan khazanah kebudayaan Nusantara, yang menurut istilah saya Potret Kecil dalam Bingkai Besar. Artinya, masyarakat Betawi dan kebudayanya me¬rupakan sebuah potret yang ada dalam lingkaran bingkai kebudayaan nasional. Karena, sedikit banyak, ia telah memainkan peran pentingnya dalam proses pembentukan dan perkembangan masyarakat serta kebudyaan di Nusantara ini. Karena itu, jika kita mau membacanya secara saksama, maka kita akan menemukan banyak informasi dan data penting yang diperoleh dalam bku ini. jika kita membacanya dengan teliti, terutama yang berkaitan dengan bahasa, budaya dan lain sebagainya. Dengan kata lain, buku ini perlu dibaca, bukan hanya oleh kalangan akademisi, juga publik secara umum. Supaya kita semua terhndar dari kesalahpahaman, apalagi berpikiran negatif tentang masya¬ra¬kat Betawi, yang sebenarnya sebuah masyarakat egaliter, berpikiran positif, akomodatif, dan lain-lain.
Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada Bang Haji Ridwan Saidi. Kobarkan api semangat Bang Haji yang tidak pernah padam. Tularkan ide-ide genial dan kreativ pada generasi muda. Karena mereka adalah pemilik semua ini, setelah Bang Haji dan kita-kita yang tua di sini, ”padam”.
Tujuannya, agar masyarakat Betawi sadar akan posisi dan keberadaannya di dunia modern sekarang ini.
Terima kasih,


Jakarta, 10 Maret 2011
Wassalam

Murodi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar